Beranda / Sains & Tekno / Monyet Ekor Panjang di Banjar: Bukan Sekadar Diberi Makan, tetapi Perlu Dikelola dengan Baik

Monyet Ekor Panjang di Banjar: Bukan Sekadar Diberi Makan, tetapi Perlu Dikelola dengan Baik

Oleh: Ade Suryanda* dan Tim Peneliti

Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Jakarta

 

Di tengah suasana alami Situs Banjar Desa Bulak, Kabupaten Indramayu, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kawasan tersebut. Kehadiran satwa ini bukan hanya menarik perhatian pengunjung, tetapi juga memiliki nilai ekologis dan menjadi bagian dari kehidupan kawasan.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang sering luput dari perhatian: apakah monyet-monyet tersebut benar-benar hidup sejahtera?

Selama ini, keberadaan satwa liar sering kali dinilai dari jumlah populasinya. Jika monyet masih banyak dan dapat dijumpai dengan mudah, kawasan dianggap baik-baik saja. Padahal, konservasi tidak cukup hanya memastikan satwa tetap ada. Kita juga perlu memastikan bahwa satwa dapat menjalani kehidupan yang layak, memperoleh sumber makanan yang sesuai, memiliki lingkungan yang mendukung perilaku alaminya, serta tidak terlalu bergantung pada manusia.

Penelitian mengenai kesejahteraan monyet ekor panjang di Situs Banjar pada tahun 2025 memberikan gambaran penting mengenai kondisi tersebut. Penelitian mencatat aktivitas harian, manajemen pakan, dan tingkat eksplorasi terhadap pengayaan lingkungan sebagai bagian dari indikator kesejahteraan satwa.

Ketika makanan dari manusia menjadi terlalu penting

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah hubungan antara monyet dan sumber makanan dari manusia.

Pada kawasan semi-alami yang berdekatan dengan aktivitas manusia, monyet ekor panjang menghadapi berbagai tekanan, antara lain perubahan habitat, pemberian pakan yang tidak terkontrol, dan tingginya intensitas interaksi manusia–satwa. Kondisi tersebut dapat mengubah perilaku alami satwa dan meningkatkan ketergantungannya terhadap manusia.

Hasil penelitian sebelumnya di Situs Banjar menunjukkan bahwa aktivitas harian monyet cukup beragam. Aktivitas menjelajah tercatat sebesar 30,9 persen, sedangkan perilaku makan sebesar 13,8 persen dan istirahat 12,3 persen. Data tersebut menjadi salah satu dasar untuk memahami bagaimana monyet menggunakan ruang dan sumber daya yang tersedia di kawasan.

BACA JUGA  Pemprov Jabar Siap Ambil Alih Pengelolaan Bandung Zoo Melalui BUMD

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat cerita tentang bagaimana satwa beradaptasi dengan lingkungan yang semakin banyak bersentuhan dengan aktivitas manusia.

Ketika makanan dari manusia terlalu mudah diperoleh, monyet dapat kehilangan sebagian dorongan untuk mencari dan mengeksplorasi sumber makanan secara alami. Dalam jangka panjang, ketergantungan semacam ini berpotensi meningkatkan risiko konflik dengan manusia, gangguan kesehatan, dan menurunkan kemampuan adaptasi satwa.

Karena itu, memberi makan monyet sebanyak-banyaknya bukanlah bentuk kepedulian yang selalu tepat. Kepedulian terhadap satwa justru harus mempertimbangkan apa yang benar-benar dibutuhkan satwa untuk hidup secara sehat dan berperilaku alami.

Monyet juga membutuhkan lingkungan yang menarik

Kesejahteraan satwa tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya makanan. Lingkungan tempat satwa hidup juga sangat penting.

Monyet ekor panjang merupakan satwa yang aktif. Mereka membutuhkan kesempatan untuk bergerak, menjelajah, mencari makanan, berinteraksi dengan kelompoknya, bermain, dan melakukan berbagai perilaku alami lainnya.

Karena itu, penelitian lanjutan di Situs Banjar tidak hanya melihat persoalan pakan, tetapi juga mengevaluasi pengayaan lingkungan. Pengayaan dapat berupa variasi struktur lingkungan, seperti tali, batang kayu, maupun wadah pakan tersembunyi yang mendorong satwa untuk bergerak dan mengeksplorasi lingkungannya.

Pendekatan ini penting karena lingkungan yang terlalu sederhana dapat membuat satwa memiliki sedikit pilihan untuk melakukan perilaku alami. Sebaliknya, lingkungan yang lebih beragam dapat memberikan stimulasi dan kesempatan bagi satwa untuk menggunakan kemampuan alaminya.

BACA JUGA  Pabrik Beras di Kandanghaur Indramayu Terbakar Hebat

Lima hal yang menentukan kesejahteraan

Untuk memahami kesejahteraan monyet secara lebih menyeluruh, penelitian ini menggunakan pendekatan Five Domains Model.

Sederhananya, model ini melihat kesejahteraan satwa melalui lima aspek yang saling berkaitan: nutrisi, lingkungan, kesehatan, perilaku, dan kondisi mental. Jadi, satwa tidak hanya dinilai dari apakah ia kenyang atau tidak, tetapi juga dari bagaimana lingkungan memengaruhi tubuh, perilaku, dan pengalaman hidupnya.

Pendekatan tersebut membawa perubahan cara pandang dalam konservasi.

Konservasi tidak lagi cukup bertanya, “Berapa jumlah monyet yang masih ada?” Pertanyaan tersebut perlu dilengkapi dengan pertanyaan lain: “Bagaimana kualitas kehidupan monyet yang masih ada?”

Inilah yang menjadi dasar penelitian lanjutan tahun 2026. Tim peneliti mengembangkan model pengelolaan kawasan yang menggabungkan indikator perilaku, manajemen pakan, pengayaan lingkungan, kesehatan, dan tata kelola kawasan.

Dari penelitian menuju solusi

Penelitian ini tidak berhenti pada pengamatan terhadap monyet. Tujuan akhirnya adalah menghasilkan model yang dapat diterapkan oleh pengelola kawasan.

Tahapannya dimulai dengan menganalisis kembali data kesejahteraan satwa, kemudian mengidentifikasi faktor-faktor penting yang memengaruhi kesejahteraan monyet. Setelah itu, tim mengembangkan model pengelolaan kawasan berbasis kesejahteraan satwa. Model tersebut selanjutnya akan diuji keterterapannya melalui diskusi bersama pengelola kawasan, akademisi, dan perwakilan masyarakat.

Pelibatan masyarakat menjadi bagian penting. Sebab, persoalan konservasi di lapangan tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan ilmiah. Pengelola kawasan, masyarakat sekitar, pengunjung, pemerintah daerah, dan berbagai pihak lain memiliki peran dalam membentuk hubungan yang lebih sehat antara manusia dan satwa.

Dengan demikian, konservasi bukan berarti menjauhkan manusia sepenuhnya dari satwa. Yang lebih penting adalah mengatur interaksi agar manusia tidak membuat satwa kehilangan kemampuan untuk hidup secara alami.

BACA JUGA  Pemkot Bandung Libatkan Puluhan Lembaga Konservasi Kelola Kebun Binatang

Menjaga monyet berarti menjaga kawasan

Monyet ekor panjang memiliki peran ekologis dalam ekosistem, antara lain sebagai penyebar biji dan bagian dari jejaring ekologis kawasan. Karena itu, menjaga kesejahteraan monyet juga berkaitan dengan menjaga fungsi ekosistem secara lebih luas.

Situs Banjar dapat menjadi contoh bagaimana konservasi satwa liar di kawasan semi-alami perlu dikembangkan secara lebih modern. Keberhasilan pengelolaan tidak hanya diukur dari apakah satwa masih dapat ditemukan, tetapi juga dari apakah satwa memperoleh lingkungan yang mendukung kehidupannya dan apakah hubungan dengan manusia dapat berlangsung secara lebih seimbang.

Penelitian tahun 2025 telah memberikan data dasar mengenai aktivitas harian, pengelolaan pakan, dan pemanfaatan pengayaan lingkungan. Penelitian tahun 2026 kemudian diarahkan untuk membawa temuan tersebut dari tahap pengamatan menuju solusi yang lebih aplikatif.

Harapannya, model yang dikembangkan nantinya tidak hanya bermanfaat bagi Situs Banjar. Model tersebut dapat menjadi rujukan bagi pengelolaan kawasan semi-alami lain yang menghadapi persoalan serupa.

Pada akhirnya, menjaga monyet ekor panjang bukan sekadar soal mempertahankan keberadaan seekor satwa. Ini adalah tentang membangun cara hidup berdampingan yang lebih bijaksana.

Monyet tidak membutuhkan manusia untuk selalu memberinya makan. Monyet membutuhkan manusia yang mampu menyediakan ruang agar mereka tetap dapat menjadi monyet—bergerak, menjelajah, mencari makan, berinteraksi, dan hidup dengan perilaku alaminya.

Di situlah makna konservasi yang sesungguhnya: bukan hanya menjaga satwa tetap hidup, tetapi memastikan mereka dapat hidup dengan sejahtera.

* Penulis adalah Koordinator Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Jakarta jenjang S1 periode 2025-2030.  Selain itu juga Pembina Kelompok Studi Primata (KSP) Macaca Universitas Negeri Jakarta

Tag: