HARIANJABAR.ID- Anggapan masyarakat luas yang menyebutkan bahwa konsumsi monosodium glutamat (MSG) atau micin dapat menurunkan kecerdasan dan merusak kesehatan otak ternyata hanyalah mitos belaka. Stigma negatif ini bermula dari kemunculan istilah Chinese Restaurant Syndrome pada tahun 1968, yang secara keliru mengaitkan konsumsi masakan ber-MSG dengan gejala fisik tertentu tanpa dukungan bukti ilmiah yang valid.
MSG secara mendasar terdiri dari kombinasi air, natrium, dan asam glutamat. Asam glutamat sendiri merupakan senyawa asam amino non-esensial yang secara alami sudah diproduksi oleh tubuh manusia dan dapat ditemukan dalam berbagai bahan makanan seperti tomat, jamur, keju, hingga ASI.
Dalam proses metabolisme tubuh, asam glutamat yang berasal dari tambahan MSG diproses dengan mekanisme yang sama persis saat tubuh mencerna asam glutamat alami dari bahan pangan. Oleh karena itu, berbagai lembaga kesehatan dunia seperti WHO dan US FDA telah mengategorikan MSG ke dalam kelompok bahan pangan yang aman untuk dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.
Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa konsumsi MSG dalam batas normal dapat mengganggu fungsi kognitif atau merusak sel otak manusia. Molekul glutamat dari makanan diketahui tidak dapat menembus sawar darah otak secara sembarangan, sehingga tidak memberikan dampak negatif pada kecerdasan seseorang.
Tinjauan Medis Keamanan MSG
Mengenai reaksi hipersensitivitas, penelitian klinis berskala besar dengan metode double-blind placebos membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat tidak menunjukkan reaksi negatif saat mengonsumsi MSG. “Gejala ringan seperti pusing atau leher tegang hanya ditemukan pada sebagian kecil individu yang memiliki sensitivitas khusus, dan biasanya terjadi jika MSG dikonsumsi dalam jumlah sangat tinggi tanpa makanan pendamping,” ujar seorang pakar kesehatan dalam sebuah laporan yang dirilis pada Oktober 2026.
Meski secara sains dinyatakan aman, masyarakat tetap diimbau untuk tidak mengonsumsi MSG secara berlebihan. Penggunaan yang bijak diperlukan untuk membatasi asupan natrium harian, mengingat konsumsi natrium yang terlalu tinggi, baik dari garam dapur maupun MSG, dapat memicu risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi.












