Beranda / Pendidikan / Trauma Bonding: Mengapa Korban Kekerasan Sulit Meninggalkan Pelaku?

Trauma Bonding: Mengapa Korban Kekerasan Sulit Meninggalkan Pelaku?

Oleh : Gloria Kumaat Monintja

Mahasiswa Magister Sains Psikologi, Soegijapranata Catholic University

 

Pernahkah Anda mendengar kisah seseorang yang terus bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan, baik fisik maupun emosional? Bagi orang luar, solusinya tampak sangat sederhana: “Mengapa tidak tinggalkan saja?”

Namun, kenyataan di lapangan jauh lebih rumit. Mengakhiri hubungan bermasalah tidak sekadar memutuskan komunikasi. Banyak korban terperangkap dalam fenomena psikologis yang sangat kuat yang disebut trauma bonding (ikatan trauma).

Apa Itu Trauma Bonding?

Trauma bonding pertama kali dikonseptualisasikan oleh Dutton dan Painter (1981) untuk menjelaskan ikatan emosional mendalam yang terbentuk antara korban dan pelaku kekerasan. Ikatan ini tidak lahir dari rasa cinta yang sehat, melainkan dari siklus kekerasan berulang yang diselingi dengan perhatian atau kasih sayang (intermittent reinforcement).

Pelaku kekerasan jarang bertindak kejam sepanjang waktu. Ada kalanya mereka sangat penuh kasih, meminta maaf secara emosional, memberi perhatian lebih, atau berjanji untuk berubah. Siklus yang tidak menentu ini menciptakan ketidakpastian ekstrem yang justru memicu ketergantungan emosional pada diri korban (Luh et al., 2021).

Mengapa Trauma Bonding Bisa Terjadi?

Secara psikologis dan biologis, ada beberapa alasan utama mengapa ikatan ini begitu sulit diputuskan:

BACA JUGA  Bukan Sekadar Ritual: Mengapa Kualitas Hubungan Batin Menentukan Kesehatan Mental

1. Permainan Hormon dan Respons Biologis

Saat mengalami ancaman kekerasan, tubuh korban memproduksi hormon stres (kortisol dan adrenalin). Ketika pelaku tiba-tiba berubah menjadi baik, tubuh melepaskan hormon dopamin (rasa senang) dan oksitosin (ikatan emosional). Perubahan hormon yang drastis dan tidak terduga ini menciptakan efek yang mirip dengan kecanduan zat.

2. Peran Empati Korban yang Terdistorsi

Penelitian terbaru oleh Effiong et al. (2022) menunjukkan bahwa trauma bonding pada korban kekerasan pasangan intim justru dapat menguat ketika korban memiliki tingkat empati yang tinggi. Korban cenderung merasa kasihan, memahami alasan di balik kemarahan pelaku, dan merasa bertanggung jawab untuk “menyembuhkan” atau membantu pelaku.

3. Siklus Abuse yang Berulang

Dinamika hubungan ini umumnya berjalan dalam empat tahapan konstan:

    • Penumpukan Ketegangan: Suasana mulai terasa kaku, dingin, dan penuh ancaman.
    • Insiden Kekerasan: Terjadi ledakan kekerasan fisik, verbal, atau emosional.
    • Fase Honeymoon (Penyesalan): Pelaku meminta maaf, bersikap manis, dan berjanji tidak akan mengulanginya. Korban merasa lega dan percaya pelaku telah berubah.
    • Ketenangan Sementara: Hubungan tampak normal hingga ketegangan kembali menumpuk.

4. Erosi Rasa Percaya Diri dan Manipulasi Psikologis

Pelaku sering menggunakan manipulasi psikologis (gaslighting) hingga korban meragukan ingatan, persepsi, dan kewarasannya sendiri. Korban perlahan meyakini bahwa kekerasan tersebut terjadi akibat kesalahan mereka sendiri.

BACA JUGA  Apakah Beribadah dapat Mencegah Terjadinya Bunuh Diri? Ini Penjelasan Psikologinya

5. Isolasi Sosial

Secara bertahap, pelaku membatasi akses korban ke keluarga dan teman-teman. Ketika korban kehilangan sistem dukungan (support system), pelaku menjadi satu-satunya sumber validasi dan pertolongan yang tersisa.

Dampak Psikologis pada Korban

Bertahan dalam ikatan trauma membawa konsekuensi serius bagi kesehatan mental dan kualitas hidup korban (Astriani, 2021):

Area Dampak yang Dirasakan
Kesehatan Mental Depresi berat, gangguan kecemasan kronis, dan Complex PTSD (CPTSD).
Konsep Diri Kehilangan identitas, penurunan harga diri (self-esteem), dan learned helplessness(ketidakberdayaan yang dipelajari).
Kehidupan Sosial Terisolasi dari lingkungan sosial, penurunan fungsi akademik/profesional, serta krisis kepercayaan pada orang lain.

 

Langkah Memutus Rantai Trauma Bonding

Meskipun memutus ikatan trauma merupakan tantangan yang berat, pemulihan dan resiliensi diri sangat mungkin dicapai melalui langkah-langkah yang tepat (Marita & Rahmasari, 2021):

  • Kenali dan Akui Polanya: Mulai mencatat atau mengidentifikasi siklus kekerasan secara objektif tanpa memaklumi tindakan pelaku.
  • Terapkan No Contact atau Low Contact: Putus semua akses komunikasi jika memungkinkan. Apabila harus berinteraksi (misalnya terkait urusan hukum atau anak), batasi kontak pada hal-hal esensial.
  • Bangun Kembali Support System: Hubungi kembali keluarga, sahabat, atau bergabung dengan support group sesama penyintas kekerasan.
  • Cari Bantuan Profesional: Melakukan konseling dengan psikolog atau psikiater untuk memproses trauma, mengurai distorsi kognitif, dan melepaskan ikatan emosional secara aman.
BACA JUGA  Psikologi di Balik Cancel Culture: Ketika Perbedaan Budaya Menjadi Alasan Pengucilan Digital


Referensi

Astriani, N. H. (2021). Dampak psikologis pada perempuan yang pernah mengalami kekerasan dalam pacaran: Studi kasus di Kalimantan Timur. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 8(3), 120–134.

Dutton, D. G., & Painter, S. (1981). Traumatic bonding: The development of emotional attachments in battered women and other relationships of intermittent abuse. Victimology: An International Journal, 6(1-4), 139–155.

Effiong, J. E., Ibeagha, P. N., & Iorfa, S. K. (2022). Traumatic bonding in victims of intimate partner violence is intensified via empathy. Journal of Social and Personal Relationships, 39(12), 3619–3637. https://doi.org/10.1177/02654075221106232

Luh, N., Sintyasari, D., Gusti, I., & Diah, A. (2021). Faktor-faktor yang melatarbelakangi keputusan perempuan untuk bertahan dalam abusive dating relationship. Jurnal Psikologi Udayana, 8(2), 58–71. https://doi.org/10.24843/JPU/2021.v08.i02.p08

Marita, V. F., & Rahmasari, D. (2021). Resiliensi perempuan korban kekerasan dalam hubungan pacaran. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 8(2), 109–121.

 

Tag: