Beranda / Kesehatan / Bukan Sekadar Ritual: Mengapa Kualitas Hubungan Batin Menentukan Kesehatan Mental

Bukan Sekadar Ritual: Mengapa Kualitas Hubungan Batin Menentukan Kesehatan Mental

Oleh:

Gloria Kumaat Monintja S.Psi

Mahasiswa Magister Sains Psikologi, Universitas Katolik Soegijapranata

 

Di era modern yang serba cepat ini, teknologi berkembang pesat namun tekanan hidup justru terasa kian menyesakkan. Menariknya, data psikologi menunjukkan bahwa materi dan fasilitas yang melimpah di negara maju tidak selalu menjamin ketenangan batin. Sebaliknya, banyak individu justru merasa lebih stres. Mengapa demikian? Jawabannya terletak pada bagaimana seseorang memberi arti pada setiap persoalan hidupnya, bukan pada seberapa banyak fasilitas yang ia miliki.

Salah satu benteng pertahanan mental yang paling sering digunakan manusia sejak dulua adalah sisi spiritualitas atau keyakinan batin. Dalam ranah psikologi, strategi ini dikenal sebagai religious coping—yaitu cara manusia menggunakan keyakinan mereka untuk bertahan hidup dan bangkit dari keterpurukan. Namun, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa menggunakan keyakinan sebagai obat stres laksana pisau bermata dua: efeknya sangat bergantung pada cara pandang kita.

Ketika Keyakinan Menjadi Penyelamat

Saat menghadapi badai kehidupan, seperti kehilangan pekerjaan atau masalah keluarga, mental kita akan otomatis mengukur seberapa berat masalah tersebut dan modal apa yang kita punya untuk menghadapinya. Di sinilah keyakinan batin bekerja sebagai cadangan kekuatan.

Cara menghadapi masalah dikatakan positif dan efektif ketika seseorang membangun hubungan yang aman, sehat, dan penuh kasih dengan Sang Pencipta. Bentuk nyatanya antara lain:

  • Melihat Hikmah di Balik Masalah:Menggeser sudut pandang bahwa kemalangan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah ujian yang membawa kebaikan atau bagian dari rencana yang lebih besar.
  • Bekerja Sama dengan Tuhan:Menempatkan Tuhan sebagai “mitra” dalam memecahkan masalah. Di sini, seseorang tidak pasrah buta atau berdiam diri; mereka tetap berusaha aktif, namun merasa tenang karena tahu mereka tidak memikul beban berat itu sendirian.
  • Mencari Dukungan dan Memaafkan:Mencari ketenangan lewat komunitas yang sehat serta belajar melepaskan rasa sakit hati melalui pengampunan.

Penelitian psikologi oleh Utami (2012) membuktikan bahwa cara memaknai keyakinan yang positif ini memberikan kontribusi hingga 12,53% terhadap kebahagiaan hidup seseorang. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan sekadar menjalankan ritualitas formal yang hanya menyumbang 2,78%. Artinya, kualitas hubungan batin jauh lebih penting daripada sekadar formalitas.

Sisi Gelap Pikiran: Saat Keyakinan Menjadi Beban

Sebaliknya, sisi spiritual justru bisa berubah menjadi racun bagi pikiran apabila seseorang terjebak dalam rasa ketakutan dan bersalah yang ekstrem. Cara yang negatif dan tidak efektif ini meliputi:

  • Merasa Sedang Dihukum:Selalu menganggap nasib buruk atau penyakit sebagai hukuman langsung atas dosa masa lalu.
  • Kecewa dan Marah pada Keadaan:Munculnya rasa kesal, protes, atau merasa ditelantarkan oleh Yang Maha Kuasa saat situasi tidak berjalan sesuai rencana.
  • Menyendiri dan Menarik Diri:Menjauh dari lingkungan sosial atau komunitas karena merasa dihakimi.

Studi psikologi oleh Marlina dkk. (2025) mengingatkan bahwa pola pikir “saya sedang dihukum” membuat seseorang kesulitan mengelola emosi dan cenderung menyalahkan diri sendiri. Ketika kehilangan pegangan hidup akibat merasa ditinggalkan, batin yang tersiksa ini berisiko memicu depresi berat, hingga tindakan fatal yang membahayakan diri sendiri.

Kesimpulan

Esensi dari kesehatan mental bukanlah tentang seberapa rajin kita beribadah secara formal. Kuncinya terletak pada fungsi dari keyakinan itu sendir, apakah ia hadir sebagai sumber kedamaian yang penuh kasih, atau justru dipandang sebagai sosok yang kejam dan mengancam?

Untuk menjaga kesehatan mental di tengah krisis, kita perlu beralih dari pola pkir yang menakutkan (negatif) menuju pola pikir yang penuh harapan (positif). Menjadikan keyakinan sebagai sumber kekuatan batin, bukan sumber rasa bersalah, adalah kunci utama untuk bertahan hidup.

Daftar Pustaka

Marlina, M., Amanda, R. S., Suroji, S. A., Juliansyah, D., & Putri, M. (2025). Efektivitas terapi religius coping dalam mengatasi self-harm pada mahasiswa. Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences, 3(1), 1–14.

Utami, M. S. (2012). Religiusitas, koping religius, dan kesejahteraan subjektif. Jurnal Psikologi, 39(1), 46–66.

Koenig, H. G., VanderWeele, T. J., & Peteet, J. R. (2023). Handbook of religion and health (Edisi ke-3). Oxford University Press

 

 

 

Tag: