Beranda / Pendidikan / Merajut Kembali yang Terkoyak: Peran Forgiveness dalam Hubungan yang Sehat

Merajut Kembali yang Terkoyak: Peran Forgiveness dalam Hubungan yang Sehat

Oleh : Gloria Kumaat Monintja

Mahasiswa Magister Sains Psikologi, Soegijapranata Catholic University

 

Dalam berbagai konteks kehidupan sosial—baik dalam pertemanan, ikatan keluarga, hubungan rekan kerja, maupun relasi romantis—perasaan sakit hati, benci, marah, dan dendam sangat rentan terjadi akibat perlakuan buruk seperti pembohongan, penolakan, pengkhianatan, atau pelecehan. Individu yang menjadi korban dari perlakuan tersebut dapat menderita luka psikologis yang mendalam.

Di saat sebuah hubungan “terkoyak” oleh luka tersebut, pemaafan (forgiveness) hadir sebagai pilihan yang paling produktif untuk membantu individu memulihkan kembali hubungan yang rusak dan memberikan kontribusi pada kesejahteraan secara keseluruhan.

Sebelum mempraktikkan pemaafan, ada beberapa hal yang perlu dipahami tentang makna dari forgiveness, agar proses perajutan kembali sebuah hubungan dapat berjalan tepat sasaran.

  • Pengampunan tidak sama dengan berdamai (reconciling), karena proses berdamai mensyaratkan adanya rasa saling percaya dari kedua belah pihak.
  • Pengampunan juga harus dibedakan dari tindakan sekadar melupakan (forgetting), sebab melupakan suatu kejadian traumatis tidak benar-benar membebaskan individu dari rasa sakit.
  • Pemaafan pada hakikatnya adalah sebuah proses di mana individu berupaya menyelesaikan rasa kepedihan atau keinginan untuk membalas, dan selanjutnya membangun perasaan serta motivasi yang prososial terhadap sang pelaku.
  • Dalam dimensi psikologis, pengampunan adalah proses menggantikan pikiran, perasaan, maupun perilaku negatif terhadap pelaku dengan pikiran, perasaan, dan perilaku yang positif.
BACA JUGA  Psikologi di Balik Cancel Culture: Ketika Perbedaan Budaya Menjadi Alasan Pengucilan Digital

Menolak untuk memaafkan sama dengan membiarkan “robekan” npada sebuah hubungan semakin melebar dan merusak fungsi interpersonal. Menyimpan rasa dendam serta memelihara permusuhan dan kemarahan kronis dapat mengakibatkan timbulnya masalah kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Sikap tidak memaafkan (unforgiveness), yang berbentuk respons afektif, perilaku, dan kognitif yang negatif terhadap orang lain, dapat mengantarkan individu pada kegagalan dalam menjalankan fungsi sosialnya.

Bagaimana Forgiveness “Merajut” Kembali Hubungan?

Memaafkan adalah bagian yang sangat krusial dalam proses penyembuhan psikologis. Salah satu fungsi utama forgiveness adalah kemampuannya untuk mengembalikan empati. Ketika seseorang memiliki empati dan mampu melihat situasi dari kacamata orang yang pernah melukainya, ia dapat membentuk pemahaman mengenai alasan di balik tindakan negatif tersebut. Pemaafan digerakkan oleh motivasi benevolence, yaitu keinginan dan kecenderungan untuk bersikap baik kepada orang yang telah menyakiti, yang disertai dengan bertumbuhnya rasa belas kasih.

BACA JUGA  Bukan Sekadar Ritual: Mengapa Kualitas Hubungan Batin Menentukan Kesehatan Mental

Meskipun secara spesifik sangat berdampak dalam ikatan pernikahan—di mana sikap memaafkan memungkinkan pasangan untuk berkomunikasi dengan sukses tanpa menunjukkan kemarahan psikologis satu sama lain—mekanisme ini berlaku secara universal. Pemaafan yang sejati bukanlah sekadar ucapan, melainkan komitmen mendalam untuk merangkul, memahami, dan melepaskan amarah demi membuka jalan untuk membangun kembali hubungan yang sempat hancur.

Kesimpulannya, merajut kembali hubungan yang terkoyak melalui pemaafan tidak berarti menjustifikasi perbuatan salah, melainkan sebuah transformasi internal demi mencapai pembebasan diri. Anak-anak hingga orang dewasa yang memiliki tingkat kemampuan memaafkan yang lebih tinggi terbukti menunjukkan tingkat depresi, agresi, dan kecemasan yang jauh lebih rendah. Pada akhirnya, pemaafan adalah sebuah strategi adaptif yang tidak hanya memperbaiki relasi sosial yang robek, tetapi juga secara aktif meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup individu yang memilih untuk memberikannya. 

BACA JUGA  Apakah Beribadah dapat Mencegah Terjadinya Bunuh Diri? Ini Penjelasan Psikologinya

Daftar Pustaka

Antika, R., Khumas, A., & Jafar, E. S. (2024). Hubungan Forgiveness dan Kualitas Pernikahan Pada Istri. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 1(10), 143-155. https://doi.org/10.5281/zenodo.11190158

Pedhu, Y. (2022). Forgiveness Therapy Sebagai Salah Satu Intervensi Terapeutik dalam Konseling. Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia, 7(2), 99-106.

Tag: