HARIANJABAR.ID- Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah strategis dengan melibatkan 25.000 mahasiswa untuk mengatasi ancaman krisis sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang diperkirakan akan penuh pada akhir 2026. Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari intervensi darurat dan perubahan perilaku masyarakat guna menekan volume sampah dari tingkat rumah tangga di wilayah Bandung Raya.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, menyatakan bahwa kapasitas TPA Sarimukti saat ini dalam kondisi kritis dan memerlukan penanganan cepat sebelum memasuki Desember 2026. Selain mengandalkan teknik pemadatan sampah atau compacting, pemerintah daerah juga berkolaborasi dengan 98 perguruan tinggi untuk mengedukasi warga secara masif.
Para mahasiswa yang diterjunkan akan bekerja sama dengan perangkat desa dan kecamatan untuk memberikan sosialisasi mengenai pemilahan serta pemanfaatan sampah langsung dari rumah ke rumah. Sebagai bentuk apresiasi, perguruan tinggi yang terlibat dalam program ini akan memberikan konversi sebanyak 10 satuan kredit semester (SKS) kepada setiap mahasiswa peserta.
Herman menargetkan gerakan sosial ini dapat mengurangi timbulan sampah hingga 20 persen per hari. Angka tersebut dianggap sangat signifikan karena mampu menekan beban operasional TPA secara efektif tanpa harus membangun fasilitas pengolahan baru yang menelan biaya triliunan rupiah.
Strategi Teknis Perpanjangan Usia TPA
Selain gerakan sosial, Pemprov Jabar menyiapkan sejumlah langkah teknis untuk memperpanjang usia operasional Sarimukti. Di antaranya adalah pembangunan dua unit gravity wall pada awal tahun 2027 yang bertujuan memperkuat struktur lahan serta memitigasi risiko longsor.
Pemerintah juga berencana mengolah tumpukan sampah lama menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse Derived Fuel (RDF) melalui kerja sama dengan industri semen. Langkah hilirisasi ini diharapkan dapat menjaga keberlangsungan pengelolaan sampah hingga fasilitas pengolahan waste to energy di Legok Nangka beroperasi pada tahun 2030.
Mengenai langkah konsolidasi teknis yang dilakukan, Herman menjelaskan, “Terkait dengan Sarimukti, kalau biasa-biasa, Desember itu kita udah penuh. Makanya satu, kemarin saya ke lapangan langsung. Saya konsolidasi dengan semua kepala OPD termasuk Dinas LH-nya, bagaimana kami melakukan treatment tiga bulan ke depan sampai dengan Desember, ya ruang Sarimukti bisa kita tambah, ya salah satunya dengan compacting,” ucapnya saat memberikan keterangan pada Minggu, 27 September 2026.











