HARIANJABAR.ID- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung secara resmi meningkatkan status kesiapsiagaan guna menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah yang diprediksi meningkat seiring dimulainya musim hujan pada November 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk respons atas rekomendasi BPBD Jawa Barat terkait penetapan status Siaga Darurat Bencana yang berlaku mulai 1 November 2026 hingga 30 April 2027.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi, menegaskan bahwa optimalisasi infrastruktur pendukung menjadi prioritas utama untuk meminimalisir dampak banjir di wilayah perkotaan. Pihaknya bekerja sama dengan dinas teknis terkait untuk memastikan seluruh saluran air berfungsi normal dan bebas dari tumpukan sampah.
“Untuk mengantisipasi banjir, kita harus mengoptimalkan badan-badan air yang ada, baik fungsi resapan, aliran, maupun penampungannya. Dinas teknis terkait juga terus melakukan pembersihan,” ujar Didi, Senin (2/11//2026).
Selain pembersihan saluran, pengerukan sedimentasi pada badan air juga menjadi agenda yang dilakukan secara berkelanjutan. Langkah ini dilakukan mengingat intensitas curah hujan yang diprediksi akan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada Februari 2027 mendatang.
Upaya Mitigasi Berbasis Komunitas
Didi menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada sarana infrastruktur, melainkan juga partisipasi aktif masyarakat. Warga di kawasan rawan banjir diminta untuk menyiapkan rencana evakuasi mandiri, mulai dari penentuan titik kumpul hingga jalur penyelamatan diri.
Khusus untuk ancaman angin kencang, masyarakat diimbau untuk melakukan penguatan pada struktur atap rumah agar lebih kokoh terhadap terpaan angin. “Untuk angin kencang, siapkan perlindungan di rumah, pastikan bagian yang aman, dan perkuat atap agar tidak terbang saat angin kencang,” ungkap Didi, Senin 2 November 2026.
Lebih lanjut, BPBD Kota Bandung menekankan pentingnya sistem komunikasi antara wilayah hulu dan hilir. Masyarakat diminta untuk segera memberikan informasi jika terjadi hujan deras di area hulu agar warga di hilir dapat melakukan antisipasi dini. “Kalau hujan turun deras, beri tahu daerah hilir. Harus ada komunikasi, baik antarwarga maupun antarperangkat wilayah,” tegas Didi, Senin 2 November 2026.












