HARIANJABAR.ID- Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat melaporkan terjadinya deflasi sebesar 0,05 persen secara bulanan pada Juli 2026 yang didorong oleh melimpahnya pasokan pangan dan jeda program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah. Penurunan indeks harga konsumen ini dipicu oleh rendahnya serapan komoditas pangan serta panen raya di sejumlah wilayah sentra produksi hortikultura.
Plt Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menjelaskan bahwa kelompok makanan dan peternakan menjadi faktor utama yang menekan angka inflasi di wilayah tersebut. Pasokan bawang merah, cabai merah, serta cabai rawit dari Kabupaten Bandung dan Garut yang melimpah menjadi kontributor signifikan terhadap penurunan harga di tingkat konsumen.
Selain komoditas hortikultura, sektor peternakan juga menunjukkan tren penurunan harga yang cukup tajam. Hal ini terjadi akibat berkurangnya permintaan pasar saat libur sekolah yang bertepatan dengan masa jeda program nasional di berbagai daerah.
“Penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras juga terjadi akibat berkurangnya permintaan selama masa libur sekolah karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berjalan,” ujar Ari Anggorowati pada Senin (3/8/2026).
Penyebab utama deflasi Jawa Barat
Berdasarkan data spasial, sebanyak delapan dari sepuluh daerah pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Barat mengalami deflasi, dengan tekanan terdalam tercatat di Kota Bekasi sebesar 0,14 persen. Di sisi lain, Kota Depok dan Kabupaten Subang masih mencatatkan inflasi tipis masing-masing sebesar 0,13 persen dan 0,08 persen.
Adapun komoditas yang memberikan andil deflasi tertinggi meliputi bawang merah sebesar 0,09 persen, cabai merah dan emas perhiasan masing-masing 0,07 persen, cabai rawit 0,05 persen, serta telur ayam ras sebesar 0,04 persen. Meski terjadi deflasi secara bulanan, BPS memastikan bahwa kondisi ekonomi secara tahunan tetap terjaga stabil. Tingkat inflasi tahunan (year-on-year) Jawa Barat per Juli 2026 berada di angka 2,72 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date) tercatat sebesar 1,64 persen.











