HARIANJABAR.ID – Kota Bogor berhasil mencatatkan prestasi gemilang dengan menempati posisi sebagai daerah dengan tingkat literasi paling tinggi di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2025. Pencapaian ini menjadi indikator kuat bahwa minat baca masyarakat di wilayah tersebut, terutama di kalangan generasi muda, terus mengalami peningkatan yang signifikan.
Meskipun meraih capaian positif, pemerintah daerah tetap menyadari adanya tantangan dalam memeratakan budaya membaca ke seluruh lapisan masyarakat. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan Bogor Book Fair 2026 yang menjadi wadah tahunan untuk memperkuat ekosistem literasi warga.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menjelaskan bahwa literasi memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar kecakapan membaca dan menulis. Menurutnya, literasi merupakan fondasi utama dalam membentuk kemampuan berpikir kritis bagi masyarakat guna menghadapi dinamika perkembangan zaman yang kian cepat.
“Karena itu, kegiatan seperti ini penting untuk terus mendorong minat baca, khususnya di kalangan generasi muda,” ujar Dedie A. Rachim, Selasa (24/6/2026).
Kontribusi Akademisi dalam Literasi Masyarakat
Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, menegaskan bahwa lembaga pendidikan tinggi harus memberikan dampak nyata bagi kehidupan sosial. Ia mengusung konsep Science for Society, di mana hasil riset dan inovasi kampus harus bisa diakses dengan mudah oleh publik agar memberikan pencerahan dan pemberdayaan.
“Pendidikan tinggi tidak boleh menjadi ‘menara gading’. Bogor Book Fair adalah manifestasi dari Science for Society, di mana riset dan inovasi yang kami hasilkan harus mampu terhilirisasi menjadi bacaan yang mencerahkan dan memberdayakan masyarakat secara luas,” ungkap Alim.
Senada dengan hal tersebut, Direktur IPB Press, Erick Wahyudyono, mengibaratkan literasi sebagai nutrisi intelektual yang krusial bagi warga. Ia menekankan bahwa ketersediaan bacaan yang berkualitas, mulai dari karya ilmiah hingga fiksi, menjadi kunci dalam menjaga rasionalitas masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.
“Hari ini kita tidak hanya membuka pameran, kita sedang merayakan peradaban. Di IPB Press, misi kami adalah memastikan bahwa setiap butir pengetahuan yang lahir dari riset akademis dapat bertransformasi menjadi solusi praktis di tangan warga. Literasi adalah jangkar kita dalam menjaga nalar kritis di tengah derasnya arus disinformasi digital,” tutur Erick.
Melalui Bogor Book Fair, akses terhadap berbagai jenis literatur seperti buku pengembangan diri, motivasi, hingga sosial-politik semakin dipermudah. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadikan aktivitas membaca sebagai gaya hidup yang mampu mengasah kecerdasan kognitif sekaligus memperkaya batin warga Bogor.












