HARIANJABAR.ID – Setiap tahun libur Idul Fitri menghadirkan fenomena sosial yang unik di Indonesia mobilitas manusia dalam skala besar. Jutaan orang melakukan perjalanan pulang kampung, bertemu keluarga, sekaligus memanfaatkan masa liburan untuk berwisata. Tahun ini Idul Fitri 1447 H diperkirakan jatuh pada 21 – 22 Maret 2026 dan seperti tahun-tahun sebelumnya, mobilitas masyarakat diprediksi sangat tinggi.
“Libur Lebaran adalah momen kebahagiaan bagi masyarakat Indonesia. Namun mobilitas jutaan orang dalam waktu bersamaan juga dapat meningkatkan risiko kelelahan perjalanan, stres, dan masalah kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan individu berkebutuhan khusus,” ujar Dr. Listyo, founder Disaster Network dalam keterangan tertulis kepada HarianJabarID, Jumat (13/3/2026).
Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, periode Maret masih berada pada fase akhir musim hujan di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini masih memungkinkan terjadinya hujan, banjir, angin kencang, maupun badai petir yang dapat memengaruhi perjalanan darat maupun aktivitas wisata alam. Selain faktor cuaca, sejumlah jalur mudik juga diprediksi mengalami kepadatan tinggi selama musim Lebaran.
Beberapa jalur utama seperti Simpang Jomin – Cikopo, Ciawi – Gadog – Puncak Bogor, serta sejumlah jalur arteri di Jawa Timur diperkirakan menjadi titik kemacetan karena tingginya volume kendaraan. Di wilayah Jawa Timur, kepolisian juga mengantisipasi potensi kepadatan lalu lintas di beberapa wilayah seperti Jember, yang menjadi jalur penghubung antar kota di kawasan tapal kuda.
Kemacetan dan cuaca yang tidak stabil dapat meningkatkan risiko jalan licin, jarak pandang yang menurun, serta memperpanjang waktu perjalanan akibat kemacetan atau gangguan lalu lintas. “Perjalanan yang lebih lama dari rencana sering memicu kelelahan dan tekanan psikologis bagi pengemudi maupun penumpang,” jelas Dr. Listyo.
Selain mudik, libur Lebaran juga identik dengan lonjakan pengunjung di berbagai destinasi wisata populer. Beberapa lokasi yang sering menjadi tujuan wisata keluarga antara lain Labuan Bajo, Yogyakarta, Bandung, Danau Toba, Gunung Bromo, dan Lombok. Lonjakan wisatawan di destinasi tersebut berpotensi menimbulkan kerumunan, antrean panjang, serta keterbatasan fasilitas wisata. “Kerumunan yang terlalu padat dapat menimbulkan kelelahan dan stres lingkungan, terutama bagi anak-anak dan lansia yang memiliki toleransi lebih rendah terhadap kepadatan,” kata Dr. Listyo.
Selain faktor fisik dan lingkungan, Dr. Listyo juga menyoroti dimensi ekonomi dalam perjalanan Lebaran. Tradisi mudik, kunjungan keluarga, serta aktivitas wisata sering kali meningkatkan pengeluaran rumah tangga dalam waktu singkat. Dalam situasi ekonomi yang tidak selalu stabil, sebagian keluarga berpotensi menghadapi tekanan finansial akibat biaya transportasi, konsumsi, oleh-oleh, serta aktivitas rekreasi.
“Kondisi ekonomi yang rentan dapat memperbesar tekanan psikologis setelah liburan berakhir. Karena itu penting bagi masyarakat untuk merencanakan perjalanan yang realistis sesuai kemampuan ekonomi keluarga,” jelasnya.
Untuk mengurangi berbagai risiko selama masa libur Lebaran, Dr. Listyo memberikan beberapa rekomendasi bagi masyarakat antara lain merencanakan waktu perjalanan secara fleksibel untuk menghindari puncak arus mudik, memantau informasi cuaca dan kondisi lalu lintas sebelum melakukan perjalanan. memperhatikan kebutuhan kesehatan anggota keluarga, terutama lansia, anak-anak, dan ibu hamil, memilih destinasi wisata yang tidak terlalu padat atau mengunjungi di luar jam puncak, mengelola anggaran perjalanan secara realistis agar tidak menimbulkan tekanan ekonomi setelah liburan.
“Liburan Lebaran seharusnya menjadi momen kebahagiaan dan kebersamaan keluarga. Dengan perencanaan yang matang dan perhatian terhadap kelompok rentan serta kondisi ekonomi, perjalanan dapat berlangsung lebih aman, sehat, dan bermakna,” tutup Dr. Listyo.











