Beranda / Daerah / Puluhan Ton Ikan di Waduk Saguling Mati Akibat Fenomena Upwelling

Puluhan Ton Ikan di Waduk Saguling Mati Akibat Fenomena Upwelling

HARIANJABAR.ID- Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat mencatat sebanyak 22,12 ton ikan mas di Waduk Saguling mati akibat fenomena upwelling yang dipicu oleh cuaca ekstrem. Kematian ikan dalam jumlah besar ini terjadi setelah hujan lebat terus-menerus menyebabkan limpasan material limbah masuk ke badan air hingga menurunkan kadar oksigen di lingkungan keramba.

Kepala Dispernakan Kabupaten Bandung Barat, Wiwin Aprianti, , Selasa (3/11/2026), menjelaskan bahwa fenomena upwelling memicu penurunan kualitas air secara drastis di area Keramba Jaring Apung. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari lapangan, total ada 22,12 ton ikan yang mati akibat fenomena tersebut.

Data yang diperoleh dari para pembudidaya dan pengepul menunjukkan bahwa dampak terparah terjadi di Blok Ugrem, Kecamatan Cililin, dengan kerugian mencapai 15 ton ikan mas. Selain itu, titik kematian ikan lainnya tersebar di Blok Bongas, Cikadu, Balong, Pakuwon, Cijati, dan Blok Mariuk dengan skala yang lebih kecil.

BACA JUGA  BMKG Prediksi Puncak Kekeringan El Nino di Jawa Barat Berlangsung hingga Oktober

Peristiwa ini memberikan tekanan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat pembudidaya ikan di sekitar waduk. Pihak dinas terkait kini tengah melakukan koordinasi untuk penanganan bangkai ikan serta memberikan arahan teknis kepada pembudidaya agar kerugian tidak semakin meluas.

Langkah Penanganan Dampak Lingkungan

Pemerintah daerah menginstruksikan para pembudidaya untuk segera memisahkan ikan yang masih hidup dari bangkai ikan yang sudah mati. Langkah ini dilakukan agar ikan yang selamat dapat segera dipanen atau dipindahkan ke wadah pemeliharaan yang lebih aman.

Dispernakan menekankan pentingnya pengangkatan bangkai ikan dari area keramba untuk dikubur di lokasi yang jauh dari sumber air dan permukiman warga. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah proses pembusukan yang dapat memicu pencemaran perairan lebih lanjut.

BACA JUGA  BMKG Rilis Peringatan Dini Potensi Cuaca Ekstrem di Berbagai Kota Besar

Bagi ikan yang masih memenuhi standar keamanan pangan, pihak dinas memperbolehkan untuk dikonsumsi. Sementara itu, untuk ikan yang tidak layak konsumsi, disarankan diolah sebagai pakan ternak dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan.

Pembudidaya juga diimbau untuk lebih waspada dalam mengelola kepadatan tebar ikan dan memperhatikan kondisi cuaca ekstrem ke depan. Pengurangan pemberian pakan saat terjadi umbalan serta penambahan aerasi diharapkan mampu menjadi solusi dalam menekan risiko kematian massal di masa mendatang.

Tag: