HARIANJABAR.ID- Platform pesan instan WhatsApp resmi meluncurkan serangkaian pembaruan sistem keamanan guna meminimalisir risiko peretasan akun bagi lebih dari dua miliar penggunanya di seluruh dunia. Langkah ini mencakup peningkatan sistem verifikasi PIN menjadi kata sandi yang lebih kompleks serta penambahan dukungan multi-passkey untuk memperkuat autentikasi perangkat.
Pihak pengembang menyatakan bahwa pengguna kini memiliki opsi untuk beralih dari penggunaan PIN enam digit ke sistem kata sandi yang memadukan kombinasi angka, huruf, dan karakter khusus. Selain itu, WhatsApp juga memperluas fungsionalitas passkey yang memungkinkan integrasi biometrik seperti pemindaian wajah atau sidik jari di berbagai perangkat, baik Android maupun iOS.
Tidak hanya fokus pada autentikasi, aplikasi ini juga memperkenalkan fitur pendeteksi kontekstual untuk panggilan masuk dari nomor yang tidak tersimpan dalam daftar kontak. Pengguna akan mendapatkan informasi tambahan mengenai asal negara penelepon serta notifikasi jika terdapat grup percakapan yang sama antara pengguna dengan si penelepon.
Peningkatan keamanan ini menjadi respons atas maraknya berbagai modus penipuan berbasis pesan yang tercatat menimbulkan kerugian finansial yang signifikan bagi pengguna di berbagai wilayah. Langkah proaktif ini dinilai sebagai upaya esensial dalam menjaga integritas privasi data pribadi di ruang digital yang semakin rentan.
Dukungan Ahli Terkait Keamanan
Pakar keamanan siber, Joseph Steinberg, menyatakan bahwa pembaruan fitur ini memberikan lapisan proteksi yang jauh lebih baik dibandingkan sistem sebelumnya.
“Jika Anda menerima panggilan dan seseorang mengklaim berada dalam grup yang sama, fitur ini membantu memverifikasi informasi tersebut sehingga dapat mencegah potensi penipuan,” ujar Steinberg saat memberikan tanggapannya mengenai efektivitas fitur keamanan baru tersebut pada Selasa (25/08/2026).
Meskipun fitur keamanan telah ditingkatkan, para ahli tetap mengimbau agar pengguna tetap waspada terhadap teknik rekayasa sosial. Sebagian besar kasus peretasan yang terjadi selama ini dilaporkan lebih sering dipicu oleh kelalaian pengguna yang memberikan informasi sensitif kepada pihak yang tidak bertanggung jawab, dibandingkan dengan pembobolan sistem secara teknis.











