HARIANJABAR.ID- Fenomena El Nino yang berkembang di Samudra Pasifik diprediksi menjadi yang terkuat dalam 150 tahun terakhir sehingga berpotensi menjadikan tahun 2027 sebagai tahun dengan suhu rata-rata global tertinggi. Peningkatan suhu ini dipicu oleh kombinasi pelepasan energi panas dari laut ke atmosfer yang diperparah dengan dampak perubahan iklim global.
El Nino merupakan pola cuaca yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Fenomena ini secara langsung memengaruhi sirkulasi atmosfer dunia, yang berimplikasi pada munculnya musim kemarau lebih panjang atau curah hujan ekstrem di berbagai negara.
Para ahli membandingkan potensi kekuatan El Nino kali ini dengan peristiwa besar yang terjadi pada periode 1997-1998 silam. Kala itu, dunia menghadapi berbagai tantangan serius seperti kekeringan berkepanjangan, kegagalan panen, hingga terjadinya kebakaran hutan di berbagai wilayah.
Ilmuwan iklim dari Berkeley Earth, Zeke Hausfather, mengungkapkan bahwa model iklim saat ini menunjukkan proyeksi suhu yang melampaui rekor terdahulu dengan selisih yang signifikan. “Apabila proyeksi tersebut terwujud, El Nino kali ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah pencatatan modern,” ujar Hausfather dalam paparan ilmiah yang dikutip pada 29 Juli 2026.
Antisipasi Dampak Cuaca Ekstrem
Laporan yang diterbitkan jurnal Nature menegaskan bahwa gabungan antara El Nino dan emisi gas rumah kaca meningkatkan risiko gelombang panas, gangguan sektor pertanian, hingga ketersediaan air bersih. Para ilmuwan mendorong pemerintah di seluruh dunia untuk segera memperkuat langkah mitigasi serta adaptasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Meskipun demikian, para peneliti menyatakan bahwa prakiraan tersebut masih memiliki tingkat ketidakpastian. Kepastian mengenai kekuatan fenomena ini sangat bergantung pada pemantauan kondisi atmosfer dan lautan yang dilakukan secara intensif dalam beberapa bulan ke depan.
Masyarakat diharapkan tetap waspada dan rutin memantau informasi terkini dari otoritas meteorologi dan klimatologi resmi. Langkah ini dianggap penting sebagai dasar kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang mungkin terjadi di masa depan.












