Beranda / Lifestyle / Burnout di Kantor: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya Secara Psikologis

Burnout di Kantor: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya Secara Psikologis

HARIANJABAR. ID – Akhir-akhir ini isu kesehatan mental semakin sering dibahas di berbagai kalangan dan salah satunya di tempat kerja. Tempat kerja sendiri merupakan tempat kedua bagi para karyawan selain rumah, dimana waktu yang dihabiskan lebih banyak di tempat kerja. Hal ini disampaikan lebih lanjut oleh Tsantila et al (2023), dimana individu menghabiskan setidaknya sepertiga dari hidup mereka di tempat kerja.

Oleh karena itu pentingnya karyawan dapat menjaga kesehatan mentalnya di tempat kerja, karena kesehatan mental tidak hanya mengacu pada ketiadaan gangguan atau penyakit mental, tetapi juga pada kondisi kesejahteraan yang holistik dari aspek psikologis dan emosional seseorang. Konsep ini mencakup pemahaman diri yang mendalam, kemampuan untuk mengelola emosi, hubungan yang sehat dengan orang lain, serta kemampuan untuk mengatasi tantangan dan stres dalam kehidupan sehari hari (Steven, & Prasetio, 2020 dalam Fadillah, 2024).

Lebih lanjut, kondisi yang dapat terjadi di tempat kerja yaitu burnout yang merupakan suatu sindrom psikologis yang terjadi akibat adanya kelelahan emosional dan penurunan pencapaian pribadi, yang berpotensi terjadi pada karyawan di berbagai sektor bidang pekerjaan yang ada (Maslach, Jackson, & Leiter, 1997 dalam Hani et al, 2022).

Burnout telah mendapatkan pengakuan yang semakin besar atas dampak merugikannya terhadap kesejahteraan karyawan dan hasil organisasi, oleh karena itu, ada penekanan yang lebih besar pada pemahaman dan penanganan masalah ini (Araújo, 2026). Namun, sejumlah besar karyawan yang menderita masalah kesehatan mental ini tidak melakukan perawatan dan tidak menceritakan terkait dengan masalah kesehatan mental yang dialami di tempat kerja (van Hees et al, 2022). Hal ini mengakibatkan karyawan memendam tekanan yang dialami, sehingga akan semakin memperburuk kesehatan mental dirinya.

Terdapat data yang mendukung berdasarkan laporan “SHRM 2025 Insights: Workplace Mental Health” mengungkap fakta mencengangkan di balik aktivitas kerja yang tampak biasa-biasa saja. Lebih dari 52% karyawan dilaporkan mengalami burnout atau kelelahan kerja kronis, sementara empat dari sepuluh pekerja menyatakan bahwa pekerjaan mereka memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental. Kemudian, hasil Survey Workplace Wellbeing Score Indonesia 2025, tingkat kesejahteraan mental pekerja di Tanah Air masih berada di bawah rata-rata global, yakni sebesar 50,98% berbanding 58,62% (Hasibuan, 2025).

Berdasarkan data tersebut membuat kita sepatutnya lebih memperhatikan lagi kesehatan mental di tempat kerja, karena kesehatan mental yang terganggu seperti mengalami stres akan mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja secara fisik, misal kondisi emosi yang tidak stabil bisa menurunkan konsentrasi dalam hal pelaksanaan pekerjaannya. Munculnya gangguan kesehatan jiwa ini berawal dari burnout yang berkepanjangan. Dalam dunia kerja, hal ini dipicu oleh banyaknya tekanan dari perusahaan yang berimbas secara psikologis dan emosional pekerja (Ratnasari, 2019 dalam Putri et al, 2023). Oleh karena itu perlu kita pahami apa saja gejala, penyebab, dan cara mengatasi burnout di tempat kerja.

Gejala-Gejala terjadinya Burnout di Kantor

Berikut adalah beberapa gejala yang disampaikan oleh Cordes & Dougherty, 1993 dalam Hani et al, 2022, yaitu:

  • Hilangnya kreativitas.
  • Kurangnya komitmen dalam bekerja.
  • Munculnya perasaan asing dalam mengenal setiap tugas pekerjaan.
  • Munculnya penyakit fisik dan perasaan emosional.

Gejala lainnya yang muncul akibat dari burnout menurut Burke & Deszca, 1986; Jackson & Maslach, 1982; Kahill, 1988 dalam Hani et al, 2026, yaitu:

  • Gejala psikologis, seperti depresi, cemas, kelelahan, rasa bersalah yang besar, perasaan tidak berdaya dan mudah emosi;
  • Gejala penyakit fisik, seperti susah tidur, masalah pencernaan, sakit punggung, sakit kepala, pilek dan flu;
  • Gejala perilaku, seperti mengonsumsi minuman beralkohol, berkafein, narkoba dan suka absen dalam bekerja;
  • Gejala sikap, seperti sinis, tidak berperasaan, pesimis, defensif, intoleran pada rekan kerja dan orang lain, dan hilangnya rasa nyaman di lingkungan pekerjaan; dan
  • Gejala sosial, seperti penurunan harga diri, memburuknya interaksi sosial dan antar anggota keluarga.

Penyebab terjadinya Burnout di Kantor

Hal-Hal yang dapat menyebabkan ternjadinya Burnout di Kantor (Gaspar et al, 2025), yaitu:

  • Telework/pekerjaan jarak jauh.
  • Lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer.
  • Tetap bekerja walaupun sedang sakit.
  • Persepsi karyawan mengenai seberapa adil gaji atau kompensasi yang diterima.

Cara Mengatasi Burnout yang dialami di Tempat Kerja.

Cara yang dapat dilakukan oleh organisasi di tempat kerja, yaitu:

  • Beberapa strategi yang terbukti efektif dalam mencegah burnout di tempat kerja adalah pelatihan (coaching), psikoedukasi, program pelatihan, dan intervensi musik (Araújo et al, 2026).
  • Intervensi yang berfokus pada individu, seperti mindfulness, manajemen stres, dan diskusi kelompok kecil, dapat efektif dalam mengurangi kelelahan (Razai, Kooner, & Majeed, 2023).

Cara yang dapat dilakukan oleh individual untuk mengatasi burnout (Wendsche et al, 2021), yaitu:

  • Perlu membatasi komunikasi setelah jam kantor.
  • Tidak memikirkan pekerjaan kantor saat berada di rumah.
  • Melakukan aktivitas yang membuat lebih relax.
  • Perlu waktu tidur yang cukup.
  • Dapat melakukan metode mindfulness.

Oleh karena itu, pentingnya individu menyadari diri dengan memahami gejala terjadinya burnout, penyebab terjadinya burnout dan mengetahui serta melakukan cara-cara yang tepat untuk mengatasi burnout. Kemudian, perlunya tempat kerja menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dimana pimpinan berperan penting dalam membuat kebijakan yang meminimalisir konflik dan tanda-tanda gangguan mental (Sari et al, 2024). Hal ini perlu dilakukan karena lingkungan kerja yang sehat membutuhkan karyawan yang juga sehat secara fisik dan psikis.

Penulis : Herni Danisye Rosyengel Nainiti, S.Psi,
Mahasiswi S2 Sains Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

 

REFERENSI

Araújo, D., Bártolo, A., Fernandes, C., Pereira, A., & Monteiro, S. (2026). Effectiveness of Organizational Interventions to Reduce Burnout in the Workplace: A Systematic Review. International Journal of Environmental Research and Public Health. 23, 556.

Fadillah, Z.I. (2024). Pentingnya kesehatan mental karyawan di tempat kerja terhadap kinerja karyawan. Jurnal Bimbingan Konseling, Vol 2. No 2.

Gaspar, T., Guedes, F.B., Cerqueira, A., Baban, A., Rus, C., Matos, M.G. (2025). Burnout as a multidimensional phenomenon: how can workplaces be healthy environments?. Journal of Public Health. 33:2591–2604.

Hani, U., Sofiah, D., Muslikah, E.D. (2022). Burnout pada karyawan: Bagaimana peranan emotional labor dan workplace spirituality?. Journal of Psychological Research. Vol 2, No 3.

Hasibuan, L. (2025). 52% Karyawan Alami Kelelahan Kerja Kronis, Gen Z Paling Parah. https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20251010113400-33-674697/52-karyawan-alami-kelelahan-kerja-kronis-gen-z-paling-parah (Diunduh pada 3 Mei 2026).

Putri, H., Hasya, E., Raodatul, G., & Alwi, M.A. (2023). Jurnal Kebajikan, Vol 1. No 2.

Razai, M.S., Kooner, P., & Majeed, A. (2023). Strategies and Interventions to Improve Healthcare Professionals’ Well-Being and Reduce Burnout. Journal of Primary Care & Community Health. Vol14: 1–3.

Sari, S.P., Azzahra, A.M., Tabarudin, F., Wati, I.R., & Mas’ud, F. (2024). Kesejahteraan Karyawan: Dukungan Perusahaan Terhadap Kesehatan Mental Karyawan Di Tempat Kerja. Jurnal Manajemen Business Innovation Conference-MBIC, Vol 7.

Tsantila, F., et al. (2023). Developing a framework for evaluation: a Theory of Change for complex workplace mental health interventions. BMC Public Health, 23: 1171.

Van Hees, S.G.M., Carlier, B.E., Blonk, R.W.B., & Oomens, S. (2022). Strengthening supervisor support for employees with common mental health problems: developing a workplace intervention using intervention mapping. BMC Public Health, 22: 1146.

Wendsche, J., Bloom, J.d., Syrek, C., & Hinz, T.V. (2021). Always on, never done? How the mind recovers after a stressful workday?. German Journal of Human Resource Management. Vol 35, No 2.

 

Tag: