HARIANJABAR.ID- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, resmi menghentikan sementara pembangunan proyek pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) milik PT Big Data Exchange (BDx) Indonesia di kawasan Jatiluhur, Purwakarta. Keputusan tersebut diambil karena pihak pengembang belum mengantongi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) saat peninjauan berlangsung pada Jumat (2/10/2026).
Dalam pernyataannya, KDM mengungkapkan bahwa hambatan utama proyek senilai Rp3,5 triliun ini terletak pada kelalaian pihak konsultan dalam melengkapi data administratif. Ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi sebelum kegiatan konstruksi fisik dilakukan di lapangan.
“Ketika saya tanya kemarin, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) belum keluar. Amdalnya sudah keluar belum? Belum. Ya saya bilang jangan dulu dilaksanakan (pembangunan). Kan izinnya tidak keluar. Kesalahannya di mana? Di Pemda Purwakarta? Bukan. Kesalahannya adalah konsultannya, sampai ketika saya datang belum memasukkan data,” ujar Dedi pada Jumat (2/10).
Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen untuk tetap bersikap objektif dengan melibatkan tenaga ahli dari Universitas Indonesia guna menguji kelayakan dampak lingkungan proyek tersebut. Dedi memastikan bahwa selama hasil kajian objektif terpenuhi, investasi tetap dapat berjalan dengan catatan tidak mengorbankan kebutuhan masyarakat sekitar.
Prioritas Ketersediaan Air Bersih
Salah satu fokus utama evaluasi adalah penggunaan air dari Waduk Jatiluhur sebagai sistem pendingin (cooling system) server AI. Berdasarkan data yang ada, kapasitas air untuk PDAM Purwakarta mencapai 3.000 liter per detik, namun pemanfaatan aktual selama ini baru mencapai 380 liter per detik atau sekitar 11 persen.
Proyek data center tersebut direncanakan menyerap sekitar 14 persen dari alokasi air tersebut. Dedi menegaskan bahwa penggunaan air untuk fasilitas data center tidak akan mengganggu jatah kebutuhan air bersih bagi warga Purwakarta karena masih terdapat sisa kapasitas yang cukup besar.
Sebelumnya, Dedi telah melakukan inspeksi langsung ke lokasi proyek pada Selasa (28/7). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan keamanan lahan dari risiko bencana seperti banjir dan gempa bumi, serta memvalidasi kesiapan infrastruktur pendukung lainnya sebelum proyek diizinkan beroperasi kembali.










