HARIANJABAR.ID- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menyatakan bahwa suara dentuman misterius yang terdengar oleh warga di Bandung Raya pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari merupakan fenomena skyquake atau dentuman langit. Pihak BMKG hingga saat ini masih melakukan investigasi mendalam untuk memastikan penyebab pasti dari peristiwa yang memicu keresahan masyarakat tersebut.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menjelaskan bahwa timnya telah melakukan pengecekan menyeluruh terhadap berbagai instrumen pemantauan, mulai dari sensor gempa, aktivitas petir, hingga data anomali magnet bumi. Seluruh instrumen tersebut beroperasi selama periode waktu dentuman terjadi, yakni antara pukul 23.00 WIB hingga 05.00 WIB.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa kondisi cuaca di wilayah Bandung Raya terpantau cerah. Selain itu, tidak ditemukan adanya catatan aktivitas kegempaan yang berasal dari Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, maupun sesar aktif lainnya di sekitar lokasi kejadian.
Meskipun alat seismik tidak mencatat adanya pergerakan lempeng, BMKG tetap berupaya mencari korelasi dari berbagai fenomena alam yang terjadi di waktu bersamaan. Salah satu aspek yang sempat diamati adalah aktivitas vulkanik di Gunung Anak Krakatau melalui citra satelit dan stasiun magnet bumi.
Hipotesis Ilmiah Fenomena Skyquake
Terkait asal-usul suara tersebut, terdapat hipotesis ilmiah yang menyebutkan bahwa dentuman kemungkinan berasal dari pelepasan gas metana di bawah permukaan cekungan Danau Purba Bandung. Mengingat wilayah Bandung Raya berdiri di atas bekas kawasan Danau Bandung Purba, kemungkinan adanya akumulasi gas bawah tanah menjadi salah satu kajian yang akan diteliti lebih lanjut.
Pihak BMKG berencana untuk segera melakukan koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), guna menelaah lebih dalam mengenai teori tersebut.
Menanggapi kebingungan publik, Suaidi Ahadi memberikan pernyataan resmi terkait hasil temuan awal timnya. “Berdasarkan data kegempaan BMKG, tidak terdeteksi adanya aktivitas kegempaan di wilayah tersebut pada Sabtu (5/9),” ujarnya dalam konferensi pers daring.
BMKG mengimbau masyarakat Bandung Raya untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak valid. Pengawasan terhadap kondisi atmosfer dan aktivitas seismik di wilayah tersebut akan terus dilakukan selama 24 jam penuh untuk memantau perkembangan situasi.












