Beranda / Daerah / Surili Jawa Jadi Penjaga Kelestarian Ekosistem Hutan Gunung Ciremai

Surili Jawa Jadi Penjaga Kelestarian Ekosistem Hutan Gunung Ciremai

HARIANJABAR.ID- Surili Jawa (Presbytis comata) berperan vital dalam menjaga kesehatan hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai melalui kebiasaan alaminya mengonsumsi pucuk daun muda. Primata endemik yang kini terancam punah ini berfungsi sebagai spesies kunci atau keystone species yang menopang regenerasi vegetasi hutan di wilayah Jawa bagian barat.

Satwa ini memiliki ketergantungan tinggi terhadap pucuk daun untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya sehari-hari. Aktivitas makan primata tersebut secara tidak langsung merangsang tumbuhan untuk kembali bertunas, sehingga kelangsungan tajuk hutan dapat terus terjaga dengan baik.

Meski perannya sangat penting bagi ekosistem, populasi Surili Jawa saat ini menghadapi tantangan besar karena statusnya yang masuk dalam kategori Endangered atau terancam punah menurut daftar merah IUCN. Pemerintah Indonesia sendiri telah melindungi primata ini melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Humas Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Eska Nata Suryana, menjelaskan bahwa sekitar 90 persen pola makan Surili didominasi oleh pucuk daun. “Surili dijadikan indikator spesies kunci karena makanannya dominan pucuk daun, sekitar 90 persen; jadi yang membuat generasi hutan tetap sehat itu adalah Surili,” ujar Eska saat memberikan keterangan di Balai Taman Nasional Gunung Ciremai pada Jumat (4/9/2026).

Upaya Konservasi dan Penelitian Genetik

Balai TNGC saat ini tidak hanya fokus pada pengawasan populasi, tetapi juga melakukan penelitian mendalam terkait profil genetik Surili Jawa di Gunung Ciremai. Langkah ini diambil untuk memahami asal-usul genetik primata tersebut, mengingat posisi Gunung Ciremai yang merupakan wilayah peralihan ekologis antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah populasi Surili di kawasan tersebut merupakan kelompok Sunda murni atau memiliki hubungan kekerabatan dengan jenis variasi lainnya. Hasil dari kajian genetik ini nantinya akan menjadi landasan utama bagi pihak pengelola dalam menyusun strategi konservasi yang lebih efektif dan akurat.

Dari sisi distribusi, primata ini terpantau menghuni berbagai ketinggian, mulai dari dataran rendah hingga zona sub-alpin pada ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Namun, konsentrasi populasi yang paling besar ditemukan di kawasan dataran rendah karena ketersediaan pakan yang lebih melimpah dan suhu yang mendukung keberlangsungan hidup kelompok mereka.

Tag: