Beranda / Sains & Tekno / Analisis Ahli ITB Mengenai Fenomena Erupsi Gunung Api Serentak di Indonesia

Analisis Ahli ITB Mengenai Fenomena Erupsi Gunung Api Serentak di Indonesia

HARIANJABAR.ID- Sejumlah gunung api aktif di Indonesia, seperti Gunung Ibu, Semeru, hingga Anak Krakatau, mengalami erupsi dalam periode yang berdekatan dari akhir Agustus hingga awal September 2026. Fenomena alam ini memicu diskusi publik mengenai keterkaitan aktivitas vulkanik di berbagai wilayah Nusantara yang berada dalam kawasan Cincin Api Pasifik.

Ahli Vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman, menyatakan bahwa aktivitas vulkanik yang terjadi bersamaan dapat dijelaskan melalui tinjauan tatanan tektonik. Secara umum, gunung api di Indonesia terbagi ke dalam empat kelompok besar, yakni Busur Sunda, Busur Banda, Busur Sangihe-Selebes, dan Busur Halmahera, di mana gunung dalam satu busur yang sama memiliki faktor pemicu serupa.

Mirzam juga menekankan adanya faktor interval erupsi unik pada masing-masing gunung yang memiliki siklus letusan berbeda, mulai dari lima hingga lima belas tahun. Jika siklus-siklus tersebut kebetulan bertemu di waktu yang sama, maka akan tampak seolah-olah terjadi letusan serentak di berbagai titik.

“Karena kalau gunung-gunung tersebut berada pada busur yang sama artinya tatanan tektoniknya sama. Kalau Krakatau sama Semeru meletus bersama karena berada pada busur yang sama. Artinya penyelenggaranya sama,” jelas Mirzam pada Selasa, 9 September 2026.

Penjelasan Teknis Aktivitas Vulkanik

Mirzam mengibaratkan fenomena ini seperti gelas berisi air yang berada di atas meja, di mana guncangan pada meja dapat menumpahkan air di beberapa gelas sekaligus. Meski demikian, perspektif berbeda disampaikan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Rita Susilawati, yang menekankan bahwa Indonesia memiliki 127 gunung api aktif dengan sistem magmatik yang berdiri sendiri.

Menurut Rita, kesamaan waktu erupsi tidak otomatis berarti adanya hubungan proses geologi yang saling berkaitan antara satu gunung dengan gunung lainnya. Pihak PVMBG menyatakan tidak menemukan bukti adanya satu pemicu tunggal yang menyebabkan seluruh erupsi terjadi secara bersamaan pada 31 Agustus 2026.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak secara langsung mengaitkan setiap gempa bumi dengan aktivitas vulkanik yang terjadi. Pemantauan gunung api di Indonesia saat ini tetap mengacu pada data letusan historis serta peta geologi guna memastikan mitigasi bencana berjalan secara akurat dan tepat sasaran.

Tag: