HARIANJABAR.ID- Kue Bandros menjadi salah satu penganan legendaris khas Jawa Barat yang digemari masyarakat lokal sebagai teman pendamping minum kopi atau teh hangat setiap harinya. Kuliner tradisional ini diolah dari campuran tepung beras, santan, kelapa parut, dan daun suji yang kemudian dipanggang dalam cetakan berbentuk setengah lingkaran.
Bentuk fisiknya sekilas menyerupai kue pukis karena menggunakan teknik pemasakan yang sama, yakni memanfaatkan cetakan logam beralur. Meskipun tergolong makanan sederhana, cita rasa khas yang dihasilkan membuat Bandros tetap eksis dan mampu bersaing di tengah maraknya kehadiran berbagai jenis makanan modern di tanah Sunda.
Penyajiannya pun cukup bervariasi mengikuti selera pasar saat ini. Para penjual biasanya menawarkan Bandros dalam dua opsi rasa, yakni rasa gurih yang dominan atau rasa manis dengan berbagai macam pilihan topping seperti gula pasir, cokelat, hingga keju parut.
Di wilayah Bandung, para pedagang Bandros dapat dengan mudah dijumpai di kawasan pusat keramaian, area perbelanjaan, hingga pedagang keliling yang masuk ke pemukiman warga. Strategi berjualan keliling ini terbukti efektif menjangkau pelanggan yang ingin menikmati camilan hangat dengan harga yang sangat terjangkau.
Eksistensi Bandros di Bandung
Salah seorang penjual kue Bandros, Bah Ayi, mengungkapkan bahwa usaha ini cukup untuk membantu perekonomian rumah tangganya sehari-hari. Ia biasa menjajakan dagangannya dengan harga mulai dari Rp5.000 untuk porsi lima potong, yang ia sampaikan saat berjualan di Kabupaten Bandung pada Senin (29/7/2026).
Kepopuleran nama kue tradisional ini bahkan menginspirasi pemerintah kota untuk mengabadikannya sebagai nama moda transportasi wisata. Bus wisata bertingkat di Kota Bandung diberi nama Bandros, yang merupakan akronim dari Bandung Tour on The Bus.
Penggunaan nama tersebut dilakukan sebagai bentuk upaya pelestarian warisan kuliner lokal agar tetap dikenal oleh masyarakat luas maupun para wisatawan yang berkunjung ke Jawa Barat. Hingga saat ini, tradisi menikmati kue Bandros yang hangat tetap terjaga seiring dengan adaptasi pedagang dalam menyesuaikan metode memasak, baik menggunakan tungku arang tradisional maupun kompor gas minimalis.











