HARIANJABAR.ID – Sejumlah tempat makan di Kota Bandung menjadi pusat perhatian masyarakat luas setelah viral di berbagai platform media sosial dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena ini menyebabkan lonjakan pengunjung yang signifikan sehingga memicu antrean panjang setiap harinya di lokasi-lokasi kuliner populer tersebut.
Beberapa destinasi kuliner yang tengah menjadi sorotan di antaranya adalah BMB Canteen di kawasan Sukajadi dengan konsep kafe terbuka, Toko Bubur DPR di Cibeunying Kidul yang menyajikan topping premium, serta RM Abah Harja di Bandung Selatan yang menonjolkan nuansa tradisional Sunda. Viralitas tempat-tempat ini dipicu oleh unggahan video pendek yang menampilkan estetika penyajian makanan serta suasana lokasi yang unik.
Banyak warga merasa tertarik untuk mengunjungi tempat tersebut karena ingin mendapatkan pengalaman visual yang berkesan di luar sekadar rasa makanan. Antusiasme publik ini membuktikan bahwa pengaruh konten digital kini memiliki peran dominan dalam menentukan arah tren gaya hidup masyarakat urban.
Seorang pengunjung bernama Rina, 28, menyatakan bahwa dirinya rela menunggu dalam antrean panjang untuk membuktikan sendiri popularitas tempat makan tersebut. “Awalnya tahu dari media sosial, ternyata tempatnya memang menarik dan makanannya enak. Menurut saya, suasananya juga jadi nilai tambah sehingga antreannya terasa sepadan,” ujarnya kepada RRI pada Minggu, 28 Juni 2026.
Daya Tarik Konten Digital
Tingginya minat masyarakat ini tidak terlepas dari peran kreator konten yang mengunggah visualisasi makanan secara apik. Berikut adalah beberapa faktor yang membuat destinasi kuliner ini terus dipadati oleh pengunjung:
- Penggunaan elemen visual yang estetik dalam video promosi.
- Keunikan konsep tempat makan yang berbeda dari restoran konvensional.
- Adanya ulasan langsung dari warganet yang memperkuat rasa penasaran publik.
- Kombinasi antara cita rasa makanan dengan pengalaman suasana yang ditawarkan.
Diskusi yang berkembang di media sosial pun menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi, di mana ekspektasi publik sering kali selaras dengan popularitas sebuah tempat. Meskipun demikian, pihak pengelola tetap berupaya menjaga kualitas agar pengalaman makan tetap sepadan dengan waktu antrean yang dihabiskan oleh para pelanggan.











