HARIANJABAR.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menginstruksikan masyarakat untuk menghidupkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling) guna merespons maraknya aksi pocong jadi-jadian yang meresahkan di berbagai daerah . Langkah ini diambil setelah munculnya berbagai laporan mengenai oknum berkostum hantu tersebut yang melakukan tindakan mengganggu ketertiban hingga menjurus pada aksi kriminalitas.
Fenomena ini awalnya dianggap sebagai sekadar aksi iseng, namun kini beralih menjadi gangguan nyata terhadap kenyamanan warga dan kelancaran lalu lintas. Sejumlah oknum berkostum pocong dilaporkan berkeliaran di jalanan raya serta area permukiman, bahkan berani meminta uang secara paksa kepada para pengguna jalan yang melintas.
Dedi Mulyadi menyoroti bahwa waktu kemunculan pocong-pocong buatan ini sangat tidak lazim karena terjadi pada siang hari di lokasi wisata dan perkotaan. Hal ini memicu tindakan tegas dari pihak Satpol PP di beberapa titik keramaian seperti wilayah Lembang dan Kota Bandung.
“Ini pocong memang menjadi hal yang meresahkan warga. Kalau di Lembang dan di Bandung, pocong dioperasi Satpol PP, karena keluarnya salah. Nah, harusnya pocong keluar malam hari, ini siang hari untuk minta-minta ke setiap mobil yang lewat,” ujar Dedi melalui keterangan resminya pada Kamis, (28/5/2026).
Penguatan Keamanan Lingkungan Melalui Ronda Malam
Selain mengganggu kelancaran lalu lintas, aksi pocong jadi-jadian ini diduga menjadi modus baru dalam tindak kejahatan berat seperti pencurian hewan ternak dan penipuan dengan cara mengetuk pintu rumah warga secara misterius. Dedi menegaskan bahwa aktivitas tersebut tidak lagi bisa ditoleransi sebagai sekadar gurauan karena sudah mengancam harta benda masyarakat.
“Di berbagai tempat ada pocong yang dikejar warga karena mencuri kambing. Ada pocong yang ngetuk-ngetuk rumah dengan berbagai modus,” ungkap Dedi menjelaskan beragam motif di balik kostum tersebut.
Sebagai langkah antisipasi preventif, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mempererat koordinasi dengan jajaran TNI dan Polri untuk memastikan situasi di lingkungan warga tetap kondusif. Gubernur juga mengajak masyarakat untuk kembali memanfaatkan alat komunikasi tradisional seperti kentongan atau sistem alarm peringatan jika menemukan pergerakan yang mencurigakan di malam hari.
“Mari kita hadapi berbagai hal yang mengganggu warga dengan sungguh-sungguh dan mari kita bersama menjaga keamanan dan ketertiban warga. Untuk warga, panik jangan. Salam untuk semuanya,” tutup Dedi dalam pesannya kepada seluruh masyarakat Jawa Barat.











