HARIANJABAR.ID – Pemerintah Provinsi Jawa Barat secara resmi memulai penataan wilayah Jatinangor di Kabupaten Sumedang untuk dikembangkan sebagai kawasan pendidikan terpadu yang dikenal dengan sebutan Kota Pelajar Jatinangor. Langkah strategis ini dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi guna memperkuat posisi wilayah tersebut sebagai pusat pendidikan tinggi yang modern dan terintegrasi.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pihak pemerintah provinsi telah menyiapkan berbagai langkah konkret untuk mewujudkan integrasi antar-perguruan tinggi di kawasan tersebut. Konsep ini dirancang untuk menciptakan harmoni antara berbagai disiplin ilmu yang ada di sana, mulai dari bidang teknik, pemerintahan, hingga ilmu sosial.
“Pemprov sudah sangat siap menata, dan itu menjadi kawasan baru yaitu kawasan pendidikan atau dalam bahasa saya Kota Pelajar Jatinangor,” ujar Gubernur yang akrab disapa KDM tersebut saat memberikan keterangan di Sumedang pada Minggu (3/6/2026).
Dalam pelaksanaannya, Dedi menginstruksikan para pimpinan perguruan tinggi untuk duduk bersama merumuskan konsep pengembangan wilayah secara komprehensif. Ia berharap kolaborasi ini melahirkan cetak biru penataan yang sesuai dengan kebutuhan akademik dan sosial di lingkungan kampus.
Fokus Benahi Infrastruktur dan Keamanan Transportasi
“Jadi saya sudah meminta waktu itu pada teman-teman perguruan tinggi untuk merumuskan secara bersama-sama karena itu kawasan pendidikan, sehingga merumuskan cara bersama bagaimana menata kawasan itu sebagai kawasan pendidikan terpadu,” jelas Dedi terkait proses perencanaan kawasan tersebut.
Selain aspek akademik, penataan ini juga akan menyentuh perbaikan infrastruktur, ruang publik, dan sistem mobilitas untuk menjamin keamanan para mahasiswa. Dedi menyoroti permasalahan lalu lintas kendaraan besar yang sering kali membahayakan pejalan kaki di sekitar area kampus sehingga diperlukan rekayasa tata ruang yang lebih baik.
Mengenai kebutuhan dana, Pemprov Jawa Barat menyatakan kesiapannya untuk mendukung pembiayaan yang diperlukan dalam proses transformasi ini. Dedi menambahkan, “saya meminta pada rektor-rektor itu, silakan berkumpul, silakan rumuskan kawasan itu secara bersama-sama. Nanti kita hitung pembiayaannya.”
KDM menekankan bahwa aksesibilitas bagi pejalan kaki menjadi salah satu prioritas utama dalam pembangunan fisik nantinya. “Jangan sampai di kawasan perguruan tinggi, nyebrang saja tidak bisa karena kendaraan besar. Nah itu kan harus dibuat,” tegasnya. Melalui visi ini, Jatinangor diharapkan mampu bertransformasi menjadi kawasan pendidikan yang tidak hanya unggul secara kualitas ilmu, tetapi juga aman, nyaman, dan berdaya saing global.











