Beranda / Bisnis / Pemkab Sumedang Adopsi Teknologi Smart Farming Dorong Regenerasi Petani Tembakau

Pemkab Sumedang Adopsi Teknologi Smart Farming Dorong Regenerasi Petani Tembakau

HARIANJABAR.ID –  Pemerintah Kabupaten Sumedang resmi memperkenalkan konsep smart farming bagi petani tembakau di wilayah Jawa Barat pada Kamis (30/4/2026), guna memodernisasi sektor pertanian dan menarik minat generasi muda. Wakil Bupati Sumedang M Fajar Aldila menyatakan langkah ini merupakan bagian dari transformasi digital untuk memastikan keberlanjutan industri tembakau yang menjadi komoditas unggulan daerah.

Fajar menjelaskan bahwa penguatan sektor pertanian harus bertumpu pada upaya regenerasi agar industri ini tetap berjalan di masa depan. Ia menekankan pentingnya menunjukkan kepada anak muda bahwa profesi petani bisa menjanjikan kesejahteraan melalui pemanfaatan teknologi modern yang lebih efisien.

Konsep smart farming ini mengintegrasikan teknologi digital, sensor, dan sistem otomatisasi yang memungkinkan efisiensi produksi lebih tinggi serta kualitas panen yang lebih terukur. Pengambilan keputusan dalam proses bertani pun dilakukan berdasarkan data akurat, sehingga meminimalisir risiko kegagalan panen yang sering dihadapi petani tradisional.

Tembakau merupakan salah satu pilar ekonomi di Sumedang dengan total produksi mencapai 21.000 ton per tahun di lahan seluas 2.100 hektare yang tersebar di 25 kecamatan. Wilayah Sukasari dan Tanjungsari menjadi sentra utama produksi yang menempatkan kabupaten ini sebagai penghasil tembakau terbesar kedua di tingkat Provinsi Jawa Barat.

Modernisasi Sarana Produksi

Sebagai bentuk dukungan nyata, pemerintah daerah menyalurkan berbagai bantuan berupa alat perajang, cultivator, benih, hingga pupuk kepada kelompok tani di berbagai wilayah. Selain itu, penggunaan UV-dryer dan sistem resi gudang juga diperkenalkan untuk menjaga kualitas produk tetap stabil meskipun cuaca sedang tidak menentu.

Mengenai aspek ekonomi, Fajar menyebutkan fluktuasi harga tembakau yang berada di kisaran Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram memerlukan intervensi teknologi agar nilainya tidak mudah anjlok. “Kesejahteraan petani harus menjadi kunci. Kalau petani berhasil, maka akan menjadi contoh nyata bahwa sektor pertanian punya masa depan,” tegas Fajar saat meninjau lahan pertanian.

Ia juga mengajak seluruh pihak, mulai dari pelaku usaha hingga jajaran pemerintah, untuk berkolaborasi memperkuat daya saing produk lokal di pasar nasional maupun internasional. Menurutnya, melalui inovasi digital dan sentuhan teknologi, pertanian tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan konvensional melainkan sektor yang kompetitif dan modern bagi generasi mendatang.

Sumber : Antara

Tag: