Oleh : Dr. Ir. Masri, M.Eng.
Saya tidak pernah berencana menjadi pengelola jurnal ilmiah.
Latar belakang saya adalah teknik mesin dan ilmu material — dunia yang berbicara dalam bahasa tegangan, regangan, modulus elastisitas, dan analisis elemen hingga. Dunia yang jauh dari rapat editorial, formulir akreditasi, dan sistem OJS. Tetapi perjalanan hidup membawa saya ke sana — dan dari perjalanan itu, saya belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan di laboratorium manapun: bahwa membangun ekosistem jurnal ilmiah yang sehat membutuhkan jenis kekuatan yang sama dengan merancang material komposit yang baik — integritas di setiap lapisan, bukan hanya di permukaan.
Tulisan ini lahir dari pengalaman itu. Pengalaman yang tidak semuanya menyenangkan. Tetapi justru karena itu, ia layak untuk diceritakan.
Dari Laboratorium ke Meja Editorial
Saya mendirikan Yayasan Kawanad bukan karena ada blueprint yang sudah matang di kepala saya. Saya mendirikannya karena saya melihat kebutuhan yang nyata: peneliti-peneliti muda di bidang teknik dan sains — mahasiswa pascasarjana, dosen junior, praktisi lapangan — yang memiliki data solid dan temuan yang relevan, tetapi tidak punya platform yang tepat untuk mendiseminasikan pengetahuan mereka.
Journal of Engineering and Science (JES) lahir dari kebutuhan itu. Sebuah jurnal yang dirancang untuk menjadi rumah bagi penelitian teknik dan sains yang berorientasi pada solusi nyata — penelitian yang mungkin tidak cukup “glamor” untuk jurnal internasional bereputasi tinggi, tetapi sangat relevan bagi insinyur, teknisi, dan peneliti yang bekerja dengan masalah-masalah konkret di lapangan.
Membangun jurnal dari nol bukan pekerjaan yang mudah. Ia membutuhkan infrastruktur teknis, jaringan reviewer, konsistensi editorial, dan — yang paling penting — orang-orang yang bisa dipercaya untuk menjaga komitmen bersama.
Di sinilah perjalanan saya mulai mengajarkan pelajaran yang paling berharga, sekaligus paling menyakitkan.
Ketika Tim Editorial Pergi Tanpa Pamit
Saya ingin berbicara tentang sesuatu yang jarang dibahas secara terbuka dalam diskusi tentang ekosistem jurnal ilmiah: krisis kepercayaan internal yang bisa menghancurkan sebuah jurnal dari dalam.
Dalam perjalanan membangun JES, saya pernah mengundang — secara lisan, dengan niat baik dan penuh kepercayaan — sejumlah kolega untuk bergabung sebagai tim reviewer dan editorial. Mereka menyatakan kesediaan. Mereka masuk ke dalam sistem. Mereka menjadi bagian dari struktur yang sedang kami bangun bersama.
Lalu, tanpa pemberitahuan yang memadai, tanpa diskusi, tanpa penyelesaian yang bermartabat — mereka pergi. Tidak hanya pergi dari tim: kepergian itu berujung pada laporan ke pihak yang berwenang atas dugaan pelanggaran kode etik akademis, dengan dasar bahwa nama mereka tercantum dalam struktur editorial tanpa persetujuan tertulis yang formal.
Saya tidak akan menyebut nama siapa pun. Saya tidak akan menyebut institusi mana pun. Karena tulisan ini bukan tentang mereka — tulisan ini tentang pelajaran yang lahir dari kejadian itu, dan tentang apa yang kejadian itu ungkapkan tentang kondisi ekosistem jurnal ilmiah kita yang lebih luas.
Pelajaran Pertama: Integritas Dimulai dari Kesepakatan yang Jelas
Dalam ilmu material, sebuah komposit yang gagal hampir selalu gagal bukan pada komponen utamanya — melainkan pada antarmuka (interface) antara komponen-komponen itu. Antarmuka yang lemah, tidak terikat dengan baik, atau tidak dirancang dengan cermat adalah titik paling rentan dalam seluruh struktur.
Hal yang sama berlaku untuk tim editorial jurnal. Kesepakatan yang hanya bersifat lisan — meskipun disampaikan dengan niat yang tulus — adalah antarmuka yang lemah. Ia tidak memiliki kekuatan struktural yang cukup untuk menanggung beban ketika tekanan datang.
Pelajaran yang saya ambil dari pengalaman itu bukan kepahitan. Pelajaran yang saya ambil adalah ini: setiap kolaborasi akademik, sekecil apapun, membutuhkan fondasi yang jelas, tertulis, dan disepakati bersama. Bukan karena kita tidak saling percaya — tetapi karena kejelasan adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap komitmen yang kita buat bersama.
Sejak kejadian itu, JES membangun seluruh struktur editorialnya di atas fondasi yang jauh lebih kokoh: kesepakatan tertulis yang jelas, peran yang terdefinisi dengan baik, dan proses onboarding yang transparan untuk setiap anggota tim.
Pelajaran Kedua: Krisis adalah Ujian Kualitas yang Sesungguhnya
Dalam pengujian material, ada yang disebut fracture toughness — kemampuan sebuah material untuk menyerap energi dan berdeformasi secara plastis sebelum akhirnya patah. Material dengan fracture toughness yang tinggi tidak langsung hancur ketika mendapat beban kejut — ia menyerap energi itu, berubah bentuk sedikit, dan tetap berfungsi.
Krisis yang saya alami adalah uji fracture toughness bagi JES. Dan saya bersyukur bahwa jurnal ini — dan Yayasan Kawanad sebagai institusi yang menaunginya — memiliki fracture toughness yang cukup untuk melewatinya.
Bukan karena saya tidak terluka. Saya terluka. Proses klarifikasi dengan pihak yang berwenang adalah pengalaman yang tidak mudah bagi siapa pun yang telah bekerja keras membangun sesuatu dengan niat yang tulus.
Tetapi justru karena melewati krisis itu, saya memahami dengan lebih dalam apa yang sesungguhnya membuat sebuah jurnal ilmiah layak dipercaya: bukan hanya kualitas artikel yang diterbitkannya, tetapi kualitas proses dan integritas institusional yang ada di baliknya.
Apa yang Sebenarnya Membuat Sebuah Jurnal Berkualitas?
Pertanyaan ini sering dijawab dengan cara yang terlalu sederhana: peringkat SINTA, impact factor, jumlah sitasi, indeksasi di database internasional.
Semua itu penting. Tetapi sebagai seseorang yang telah membangun jurnal dari nol — yang telah merasakan sendiri bagaimana sebuah jurnal bisa runtuh dari dalam bukan karena kualitas artikelnya buruk, tetapi karena fondasi kelembagaannya tidak cukup kuat — saya ingin mengajukan definisi yang berbeda.
Jurnal yang berkualitas adalah jurnal yang:
Pertama, memiliki proses editorial yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan — di mana setiap keputusan penerimaan atau penolakan artikel didasarkan pada evaluasi ilmiah yang jujur, bukan pada pertimbangan lain.
Kedua, memiliki tim yang berkomitmen dan berintegritas — di mana setiap anggota memahami perannya, menerima tanggung jawabnya secara sadar, dan menjalankannya dengan konsisten bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Ketiga, memiliki ketahanan institusional — kemampuan untuk tetap beroperasi dengan standar yang sama meskipun menghadapi tekanan, krisis, atau kehilangan personel kunci.
Keempat, memiliki relevansi yang nyata — menerbitkan pengetahuan yang benar-benar dibutuhkan oleh komunitas yang dilayaninya, bukan hanya pengetahuan yang terlihat prestisius di atas kertas.
Journal of Engineering and Science yang kami kelola di bawah Yayasan Kawanad berusaha memenuhi keempat kriteria itu — bukan karena kami sempurna, tetapi karena kami telah belajar dari ketidaksempurnaan kami sendiri dengan cara yang sangat konkret.
Ekosistem yang Sakit Tidak Bisa Disembuhkan dengan Peringkat
Data SINTA Kemdiktisaintek per Mei 2026 mencatat 15.456 jurnal terakreditasi dari 1.915 penerbit. Angka yang mengesankan. Tetapi di balik angka itu, ada ribuan cerita seperti yang saya alami — jurnal-jurnal yang berjuang membangun fondasi yang kuat dengan sumber daya yang terbatas, tim yang tidak selalu stabil, dan tekanan dari berbagai arah yang tidak selalu terlihat dari luar.
68,45% dari jurnal-jurnal itu berada di SINTA 4 dan SINTA 5. Mayoritas mutlak. Dan mayoritas mutlak itu tidak mendapat perhatian, insentif, atau dukungan yang proporsional dari sistem yang ada.
Ini adalah masalah struktural yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mendorong jurnal-jurnal itu untuk “naik peringkat”. Naik peringkat adalah hasil — bukan proses. Dan proses yang menghasilkan jurnal berkualitas adalah proses yang membutuhkan waktu, dukungan, dan ekosistem yang menghargai pertumbuhan yang bertahap dan berkelanjutan.
Dalam analogi teknik: kita tidak bisa membuat material komposit yang kuat hanya dengan menekan komponen-komponennya lebih keras. Kita perlu memastikan bahwa antarmuka antara komponen-komponen itu dirancang dengan benar, bahwa proses curing-nya dilakukan pada kondisi yang tepat, dan bahwa pengujiannya dilakukan secara jujur — bukan hanya untuk memenuhi spesifikasi di atas kertas.
Untuk Mereka yang Sedang Membangun dari Nol
Saya ingin berbicara langsung kepada para pengelola jurnal muda — mereka yang sedang membangun jurnal dari nol, dengan sumber daya terbatas, di institusi yang mungkin belum sepenuhnya mendukung, dengan tim yang mungkin belum sepenuhnya solid.
Perjalanan itu tidak mudah. Saya tahu karena saya sudah melewatinya — termasuk bagian-bagian yang paling menyakitkan.
Tetapi saya ingin mengatakan ini: setiap jurnal yang bertahan melewati krisisnya sendiri dan tetap menjaga standar editorialnya adalah jurnal yang telah membuktikan sesuatu yang tidak bisa dibuktikan oleh peringkat SINTA mana pun — bahwa ia dibangun di atas fondasi yang cukup kuat untuk bertahan.
Dan fondasi itu — integritas proses, kejernihan kesepakatan, ketangguhan institusional — adalah warisan yang jauh lebih berharga daripada peringkat akreditasi tertinggi sekalipun.
Penutup: Kekuatan Sejati Ada di Antarmuka
Dalam ilmu material komposit, kita belajar bahwa kekuatan sejati sebuah material tidak terletak pada komponen terkuatnya — melainkan pada kualitas antarmuka yang menghubungkan seluruh komponen menjadi satu sistem yang terintegrasi.
Ekosistem jurnal ilmiah Indonesia yang sesungguhnya kuat bukan ekosistem yang hanya memiliki beberapa jurnal SINTA 1 dan SINTA 2 yang gemilang di puncak. Ia adalah ekosistem di mana antarmuka antara seluruh komponennya — antara jurnal besar dan jurnal kecil, antara institusi pusat dan institusi daerah, antara peneliti senior dan peneliti muda — dirancang dengan baik, dijaga dengan integritas, dan diperkuat oleh sistem yang adil.
Kita belum sepenuhnya sampai di sana. Tetapi setiap jurnal yang dibangun dengan niat yang benar, dikelola dengan proses yang jujur, dan dipertahankan melewati krisis dengan kepala tegak — adalah satu langkah nyata menuju ekosistem yang kita inginkan.
Saya percaya itu. Karena saya telah membuktikannya sendiri.
Dr. Ir. Masri, M.Eng. adalah dosen Teknik Mesin di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, dengan spesialisasi ilmu material dan teknik mesin. Ia meraih gelar Master of Mechanical Engineering dari Nagoya Institute of Technology, Jepang (1998). Ia adalah Founder Yayasan Kawanad dan menjabat sebagai Editor-in-Chief Journal of Engineering and Science (JES). Karya-karyanya dan informasi jurnal dapat diakses melalui https://journal.kawanad.com/index.php/jes
Pandangan dalam tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis.












