HARIANJABAR.ID – Munculnya kasus infeksi hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memicu kekhawatiran publik akan ancaman pandemi serupa COVID-19. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengonfirmasi sejumlah kasus, termasuk beberapa yang berujung pada kematian, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai potensi penyebaran virus ini secara global.
Kekhawatiran ini wajar terjadi mengingat pengalaman pahit pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada awal 2020. Namun, para ahli dari WHO memberikan perspektif yang melegakan mengenai situasi hantavirus saat ini.
Dalam sebuah konferensi pers, WHO menyatakan bahwa meskipun terjadi insiden penularan hantavirus, risiko terhadap kesehatan masyarakat secara global dinilai rendah. Pernyataan ini didukung oleh keyakinan bahwa hantavirus memiliki karakteristik penyebaran yang berbeda secara fundamental dengan virus penyebab COVID-19.
Perbedaan utama terletak pada cara penularan kedua virus tersebut. Berbeda dengan SARS-CoV-2 yang sangat efisien dalam penularan antarmanusia, hantavirus memiliki hambatan signifikan dalam hal ini. Laporan menunjukkan bahwa strain hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia, yaitu Virus Andes, masih memiliki tingkat penularan yang jarang dan terbatas pada individu yang memiliki kontak sangat dekat.
Potensi Pandemi Hantavirus Sangat Kecil
Profesor Higgins bidang Mikrobiologi dan Imunologi di Universitas Columbia, Vincent Racaniello, menekankan bahwa virus seperti influenza dan SARS-CoV-2 sangat unggul dalam menyebarkan diri antarmanusia. Sebaliknya, untuk hantavirus, penularan antarmanusia yang efisien menjadi sebuah hambatan besar.
Ahli virologi, Thomas G. Ksiazek, juga menambahkan bahwa virus bukanlah fenomena baru di dunia. Jika hantavirus berpotensi menjadi epidemi skala besar, hal tersebut kemungkinan besar sudah terjadi sejak lama. Potensi pandemi sebuah virus tidak hanya diukur dari angka kematian, tetapi yang terpenting adalah kemampuannya untuk menyebar luas di antara populasi manusia.
Lebih lanjut, hantavirus memiliki karakteristik inkubasi yang memakan waktu beberapa hari hingga minggu, bahkan bisa mencapai 8 minggu sebelum gejala muncul. Virus ini juga tidak menyebar sebelum gejala klinis terlihat, yang semakin membatasi potensi penularannya secara luas dibandingkan virus yang dapat menyebar bahkan saat orang yang terinfeksi belum menunjukkan tanda-tanda sakit.











