HARIANJABAR.ID – Generasi Z memasuki dunia kerja dengan perspektif yang berbeda dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di era digital, yang di mana teknologi tidak hanya menjadi alat, namun juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tentu ini membentuk cara mereka bekerja, berkomunikasi, serta memandang keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Dalam konteks Indonesia, posisi Gen Z menjadi semakin penting karena mereka merupakan kelompok generasi terbesar. Hasil Sensus Penduduk 2020 menunjukkan bahwa Gen Z mencakup sekitar 27,94% penduduk Indonesia. Artinya, cara Gen Z memandang pekerjaan bukan lagi isu kelompok kecil, tetapi mulai menjadi bagian penting dari perubahan dunia kerja Indonesia.
Keterikatan Gen Z Indonesia dengan teknologi juga sangat kuat. Survei APJII tahun 2024 mencatat bahwa Indonesia memiliki sekitar 221,56 juta pengguna internet, dan Gen Z menjadi kelompok dengan kontribusi pengguna terbesar yaitu 34,40%. Data ini memperlihatkan bahwa bagi sebagian besar Gen Z melihat dunia digital bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan termasuk dalam aktivitas kerja.
Salah satu tantangan utama Gen Z dalam menjaga work life balance adalah tidak adanya kejelasan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka. Dengan adanya remote working dan fleksibilitas waktu, banyak dari mereka kesulitan untuk benar-benar berhenti dalam hal bekerja. Notifikasi email, pesan tentang pekerjaan, atau bahkan budaya hustle yang menekankan produktivitas tanpa henti, seringkali membuat Gen Z merasa harus selalu terhubung.
Teknologi yang dulu dianggap dapat memudahkan kehidupan, kini justru membuat sulit untuk benar-benar disconnect. Laptop boleh ditutup, tetapi pikiran tetap bekerja, dan akhir pekan bukan lagi waktu untuk beristirahat, melainkan kesempatan mengejar hal-hal yang belum sempat diselesaikan. Ironisnya, semua ini dibungkus dengan label ‘passion’ agar terlihat keren dan produktif.
Kondisi tersebut cukup relevan dengan dunia kerja Indonesia saat ini. Workplace Happiness Index Indonesia 2025 yang dirilis Jobstreet by SEEK pada Februari 2026 menemukan bahwa 43% pekerja Indonesia mengalami burnout. Bahkan, sekitar 40% pekerja yang mengaku bahagia dengan pekerjaannya tetap mengalami burnout. Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa seseorang dapat menyukai pekerjaannya, merasa nyaman dengan rekan kerjanya, bahkan merasa pekerjaannya bermakna, tetapi tetap mengalami kelelahan ketika batas antara bekerja dan beristirahat tidak dikelola dengan baik.
Selain itu, tekanan sosial dari media digital juga memperburuk situasi. Gen Z cenderung membandingkan pencapaian mereka dengan rekan sebaya di media sosial, yang sering menampilkan kesuksesan secara highlight tanpa memperlihatkan perjuangan di baliknya. Hal ini dapat memicu stres dan kelelahan mental (burnout), karena mereka merasa harus terus bersaing untuk mencapai standar yang terlihat sempurna. Scrolling Instagram atau LinkedIn kadang terasa lebih melelahkan daripada bekerja itu sendiri. Semua orang tampak sukses, bahagia, dan balance. Namun, dalam kenyataannya, banyak yang justru merasa kosong, kehilangan arah, dan kebingungan bagaimana cara berhenti dari mode always on.
Tekanan tersebut menjadi semakin kompleks ketika bertemu dengan realitas ekonomi. BPS mencatat bahwa Gen Z Indonesia tidak hanya berhadapan dengan persoalan digital dan kesehatan mental, tetapi juga ketidakpastian ekonomi dan peluang kerja. Sementara itu, survei PwC yang dirilis pada Februari 2026 menunjukkan bahwa 49% pekerja Indonesia masih mengalami tekanan finansial, 25% merasa overwhelmed, dan 41% merasa kelelahan. Jadi, persoalan work-life balance di Indonesia tidak selalu sesederhana memilih antara “kerja keras” atau “healing”. Banyak pekerja muda harus mencari keseimbangan sambil tetap menghadapi kebutuhan finansial dan ketidakpastian karier.
Namun, Gen Z juga memiliki keunggulan dalam menghadapi tantangan yang ada, yaitu mereka lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Banyak dari mereka yang secara aktif mencari cara untuk menjaga keseimbangan kehidupan, seperti melakukan liburan, olahraga, atau juga memanfaatkan teknologi untuk manajemen waktu agar lebih baik.
Kesadaran akan pentingnya self-care dan kesehatan mental menjadi bagian integral dalam kehidupan gen Z. Bagi Gen Z, self-care bukan cuma skincare dan kopi mahal, tetapi soal belajar bilang “nggak”, istirahat tanpa rasa bersalah, dan sadar kalau hidup itu bukan lomba. Mereka mulai sadar kalau produktivitas tanpa arah cuma bikin burnout versi premium, kesadaran tersebut juga terlihat di Indonesia. Indonesia Gen Z Report 2024 yang dikutip oleh BPS menunjukkan bahwa 51% Gen Z menempatkan kesehatan mental sebagai salah satu kekhawatiran utama mereka.
Dengan demikian, perhatian Gen Z terhadap kesehatan mental sebaiknya tidak buru-buru dianggap sebagai tanda bahwa mereka “lebih lemah” dalam menghadapi tekanan kerja. Sebaliknya, hal tersebut dapat menunjukkan perubahan cara generasi muda mendefinisikan pekerjaan yang sehat dan berkelanjutan.
Selain itu, Gen Z juga cenderung memilih lingkungan kerja yang fleksibel dan mendukung keseimbangan hidup mereka. Mereka tidak ragu untuk meninggalkan pekerjaan yang dianggap tidak memberikan ruang untuk kehidupan pribadi mereka. Hal ini tentu memaksa banyak perusahaan untuk mengadopsi kebijakan yang lebih ramah terhadap work-life balance. Namun, bagian ini perlu dilihat lebih hati-hati dalam konteks Indonesia. Keinginan untuk memperoleh fleksibilitas tidak selalu berarti Gen Z dapat dengan mudah meninggalkan pekerjaannya. Survei PwC terhadap pekerja Indonesia pada 2025 menunjukkan hanya 18% responden yang sedang mempertimbangkan berpindah perusahaan, sementara hampir separuh masih menghadapi tekanan finansial. Dengan kata lain, bagi banyak pekerja muda Indonesia, work-life balance harus dinegosiasikan dengan kebutuhan akan penghasilan dan keamanan kerja.
Meski demikian, kebutuhan Gen Z terhadap keseimbangan kerja memang semakin terlihat. Workplace Happiness Index menunjukkan bahwa pekerja Gen Z di Indonesia memiliki tingkat kebahagiaan kerja sekitar 76%, lebih rendah dibandingkan Milenial sebesar 84% dan Gen X sebesar 85%. Menariknya, work-life balance menjadi salah satu faktor yang paling menentukan kebahagiaan kerja Gen Z. Angka tersebut memberi pesan penting bagi perusahaan, yaitu dengan menyediakan pekerjaan saja tidak lagi cukup, tentu lingkungan kerja juga perlu memberi ruang bagi pekerja muda untuk berkembang tanpa harus mengorbankan seluruh kehidupan pribadinya.
Work-life balance bagi Gen Z bukan hanya tentang memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi, tetapi bagaimana mereka bisa menemukan keseimbangan di antara keduanya. Tantangan seperti tekanan dari teknologi dan budaya kerja yang kompetitif memang nyata, tetapi kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan fleksibilitas kerja memberikan peluang bagi Gen Z untuk menciptakan keseimbangan hidup yang sehat.
Bagi Indonesia, isu ini akan semakin penting karena Gen Z secara bertahap mengambil porsi yang semakin besar dalam dunia kerja. Perusahaan yang masih mengukur loyalitas dari siapa yang paling lama berada di kantor, siapa yang paling cepat membalas pesan di luar jam kerja, atau siapa yang paling jarang mengambil cuti mungkin akan semakin sulit menarik pekerja muda. Data Jobstreet bahkan menunjukkan bahwa work-life balance merupakan salah satu pendorong utama kebahagiaan pekerja Indonesia, sehingga perhatian terhadap keseimbangan hidup bukan semata-mata tuntutan Gen Z, tetapi telah menjadi persoalan pengelolaan SDM yang lebih luas.
Perusahaan yang memahami kebutuhan ini akan lebih mudah menarik dan mempertahankan talenta-talenta muda yang kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, tantangan perusahaan Indonesia bukan sekadar memberikan fasilitas “healing”, outing, atau jam kerja fleksibel, yang lebih penting adalah menciptakan beban kerja yang realistis, batas komunikasi kerja yang jelas, kepemimpinan yang menghargai waktu pribadi, kesempatan berkembang, serta budaya yang tidak menjadikan lembur sebagai ukuran loyalitas. Hal ini penting karena tingginya kebahagiaan kerja di Indonesia ternyata masih berjalan berdampingan dengan burnout yang tinggi.
Pada akhirnya, work-life balance bagi Gen Z bukan tentang membagi waktu 50:50 antara kerja dan hidup, tapi tentang tahu kapan harus pause, dan kapan harus go all in. Dalam konteks Indonesia, keseimbangan tersebut mungkin menjadi lebih tepat jika dipahami bukan sebagai “bekerja lebih sedikit”, melainkan sebagai kemampuan untuk tetap produktif tanpa menjadikan kelelahan sebagai sesuatu yang normal.
Penulis : Erika Fajar Subhekti
Mahasiswa S3 Pengembangan SDM, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga












