Beranda / Pendidikan / Alumni ITB Berdayakan Desa Jadi Destinasi Dunia Lewat Penyediaan Air Bersih

Alumni ITB Berdayakan Desa Jadi Destinasi Dunia Lewat Penyediaan Air Bersih

HARIANJABAR.ID –  Shana Fatina yang merupakan alumni Teknik Industri ITB angkatan 2004 menginisiasi perubahan sosial dan ekonomi di wilayah Labuan Bajo melalui penyediaan akses air bersih bagi masyarakat desa. Langkah ini dilakukan untuk mendorong transformasi desa menjadi destinasi wisata kelas dunia yang berkelanjutan serta meningkatkan kualitas hidup warga setempat melalui fondasi kebutuhan dasar.

Sebagai Founder dan CEO Komodo Water, Shana menjelaskan bahwa pembangunan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) tidak boleh mengabaikan kebutuhan paling mendasar. Pemikiran ini ia sampaikan dalam forum Studium Generale ITB bertema Dari Desa ke Destinasi Dunia: Pemberdayaan Masyarakat dalam Ekosistem Pariwisata yang berlangsung di Aula Barat ITB Kampus Ganesha.

Shana yang pernah menjabat sebagai President Director Labuan Bajo Flores Tourism Authority periode 2019-2024 mengungkapkan fakta bahwa di gerbang Taman Nasional Komodo, masih ada warga yang harus menempuh perjalanan hingga enam jam hanya untuk mendapatkan air bersih. Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan di tengah popularitas kawasan tersebut sebagai destinasi wisata internasional.

Beban ekonomi masyarakat juga cukup berat karena lebih dari 25 persen penghasilan bulanan seringkali habis hanya untuk membeli kebutuhan air. Shana menilai bahwa persoalan air bukan sekadar masalah rumah tangga, melainkan kunci pembuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat desa.

Transformasi Paradigma Pariwisata

Menurut Shana, kemudahan akses air bersih memberikan dampak domino bagi perekonomian warga, mulai dari sektor perikanan hingga pertanian di Flores. “Ketika akses air menjadi lebih mudah, masyarakat memiliki waktu lebih untuk aktivitas ekonomi. Nelayan kini bisa memproduksi es batu sendiri tanpa harus ke Labuan Bajo, dan sektor pertanian seperti kopi di Flores juga dapat berkembang lebih optimal,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa air memegang peranan krusial sebagai fondasi dasar bagi kemajuan sebuah peradaban dan ekosistem pariwisata. “Air bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga fondasi untuk budaya, ekonomi, dan pariwisata—water for culture, water for economy, and water for tourism,” ungkap Shana dalam acara yang digelar pada Minggu, 5 April 2026 tersebut.

Ia juga mengajak generasi muda untuk mengubah paradigma pengembangan destinasi wisata dari sekadar konsep alam konvensional menuju nilai yang lebih mendalam. Jika sebelumnya orientasi wisata terpusat pada aspek laut, matahari, dan pasir, kini pendekatannya perlu bergeser menuju aspek spiritualitas, ketenangan, dan keberlanjutan (spirituality, serenity, and sustainability).

Shana mengingatkan para mahasiswa agar menggunakan hak istimewa berupa akses pendidikan dan informasi yang mereka miliki untuk membantu masyarakat desa secara peka. Kesadaran akan kelebihan tersebut sangat penting agar generasi muda tidak datang ke desa dengan sikap merasa paling tahu, melainkan untuk belajar dan memahami kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.

 

Tag: