HARIANJABAR.ID – Sejumlah pedagang di kawasan Jembatan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, mulai melakukan persiapan matang untuk melayani para pemudik yang akan melintasi jalur penghubung Bandung-Cianjur tersebut. Meski kondisi penjualan terpantau masih relatif sepi hingga H-7 Lebaran pada Sabtu (14/3/2026), para pelaku usaha mikro di jalur ini tetap optimis menyambut lonjakan pembeli.
Salah satu pedagang minuman tradisional, Mia atau yang akrab disapa Teh Mia, mengungkapkan bahwa dirinya telah berjualan di lokasi tersebut sejak tahun 2010. Ia mengenang masa kejayaan jalur ini sebelum beroperasinya Jalan Tol Cipularang, di mana pendapatan harian bisa mencapai angka jutaan rupiah saat musim ramai.
“Dulu awal jualan cincau saja. Tahun 2010 sampai 2011 sehari bisa dapat sampai Rp2 juta kalau lagi ramai,” kata Mia saat ditemui di kedainya.
Perubahan arus lalu lintas akibat kehadiran jalan tol membuat para pedagang harus memutar otak agar tetap bertahan. Saat ini, Mia mengaku rata-rata pendapatan hariannya berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, sehingga ia memutuskan untuk menambah variasi barang dagangan selain cincau.
Prediksi Lonjakan Pemudik di Jalur Rajamandala
Pedagang lainnya, Reni, mengonfirmasi bahwa hingga sepekan sebelum Lebaran, volume kendaraan yang melintas belum memberikan pengaruh besar terhadap omzet penjualan. Menurutnya, karakteristik pemudik yang melintasi jalur ini biasanya didominasi oleh pengendara sepeda motor yang mencari tempat beristirahat.
“Sekarang masih sepi. Biasanya mulai ramai tiga hari sebelum Lebaran,” ujar Reni. Ia juga menambahkan bahwa keramaian di warung-warung pinggir jalan tersebut justru sering terjadi pada waktu malam hari. “Kalau malam biasanya lebih ramai. Yang berhenti kebanyakan motor,” tuturnya menjelaskan preferensi pemudik yang memilih perjalanan saat suhu udara lebih sejuk.
Senada dengan rekan-rekannya, pedagang bernama Hani juga memprediksi bahwa puncak kunjungan pembeli ke lapak-lapak di sekitar Jembatan Rajamandala baru akan terasa pada H-3 hingga H-1 Lebaran. Sebagai informasi, Jembatan Rajamandala merupakan infrastruktur vital yang menghubungkan Bandung Barat dengan Kabupaten Cianjur yang sudah berdiri sejak era 1980-an.
Meskipun jalur ini tidak lagi menjadi rute utama bagi kendaraan roda empat setelah adanya tol, Rajamandala tetap menjadi pilihan favorit bagi pemudik motor maupun mereka yang ingin menghindari kemacetan di jalur utama. Para pedagang di sepanjang jembatan yang dahulu dikenal sebagai “tol gopek” ini berharap momentum mudik tahun ini dapat memberikan tambahan penghasilan yang signifikan bagi mereka. (Sumber : Antara)












