HARIANJABAR.ID- PT Pegadaian (Persero) di bawah naungan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mencatatkan kinerja bisnis yang signifikan dengan mengelola emas mencapai 153,72 ton hingga Mei 2026. Sinergi strategis ini dilakukan untuk memperkuat tata kelola serta memantapkan posisi perusahaan sebagai motor penggerak ekosistem emas nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Pencapaian tersebut didorong oleh upaya konsisten perusahaan dalam memberikan edukasi literasi investasi kepada masyarakat. Pegadaian kini memposisikan emas sebagai aset investasi produktif dan likuid, melampaui paradigma simpanan tradisional di Indonesia.
Kinerja keuangan perusahaan juga menunjukkan tren positif pada kuartal I-2026. Laba bersih tercatat sebesar Rp 4,38 triliun atau tumbuh 87,2% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, dengan total aset yang melonjak mencapai Rp 183,8 triliun.
Dalam mendukung program hilirisasi komoditas pemerintah, Pegadaian mengoptimalkan infrastruktur penyimpanan berstandar internasional dan pengolahan emas melalui anak usahanya, Galeri 24. “Kami terus berupaya untuk memberikan produk terbaik dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari Deposito Emas, Titipan Emas Korporasi, hingga aplikasi Tring!,” ujar Direktur Pemasaran, Penjualan, dan Pengembangan Produk PT Pegadaian (Persero), Selfie Dewiyanti, Selasa (7/7/2026).
Strategi Ekspansi Pasar Internasional
Untuk memperluas jangkauan bisnis di kancah global, Pegadaian kini mulai memperkuat struktur permodalan melalui kerja sama dengan perbankan Jepang, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC). Selain itu, perusahaan tengah mengembangkan produk Exchange-Traded Fund (ETF) Emas guna memberikan fleksibilitas bagi investor di bursa yang lebih likuid dan transparan.
Langkah ekspansi tersebut juga ditandai dengan pembukaan kantor cabang luar negeri pertama di Timor Leste. Terkait konsistensi pertumbuhan jangka panjang, Direktur Utama PT Pegadaian (Persero), Damar Latri Setiawan menyampaikan apresiasinya kepada nasabah. “Tidak mudah untuk menjaga konsistensi pertumbuhan selama satu seperempat abad tanpa adanya loyalitas dan kepercayaan yang besar dari nasabah,” ujar Damar Latri Setiawan pada Selasa (7/7/2026).












