HARIANJABAR.ID – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bersikap tegas menanggapi gugurnya tiga prajurit TNI yang sedang menjalankan misi perdamaian UNIFIL di Lebanon. Melalui pernyataan resminya, ia menekankan agar organisasi dunia tersebut tidak bersikap pilih kasih atau menggunakan standar ganda dalam menyikapi tragedi ini.
SBY menyampaikan harapannya agar Dewan Keamanan PBB segera melakukan persidangan untuk menghasilkan resolusi yang jelas dan kuat. Dalam akun media sosial resminya, ia juga menyinggung kembali pengalaman masa lalu saat dirinya menjabat Menko Polkam ketika menghadapi kasus gugurnya petugas kemanusiaan PBB di Atambua pada tahun 2000 yang berujung pada sidang DK PBB.
Menurut SBY, kondisi keamanan di Lebanon saat ini sudah tidak lagi memungkinkan bagi pasukan pemelihara perdamaian untuk menjalankan tugas sesuai mandat awal. Ia menyarankan agar PBB segera mengevaluasi keberadaan pasukan di wilayah tersebut demi keselamatan personel internasional yang bertugas.
“Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” ujar SBY dalam pernyataannya pada Minggu (5/4).
Perbedaan Peran Pasukan Perdamaian
Ia menjelaskan bahwa Kontingen Garuda XXIII/S di Lebanon mengemban misi penjagaan perdamaian atau peacekeeping, bukan untuk menciptakan perdamaian melalui pertempuran. Perbedaan ini krusial karena mandat yang diberikan berdasarkan Piagam PBB Bab 6 berbeda jauh dengan misi Bab 7 yang memiliki wewenang untuk memaksakan perdamaian.
“Bukan peacemaking. Peacekeeper tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran,” ucap SBY. Ia menambahkan bahwa para prajurit seharusnya bertugas di zona biru yang merupakan wilayah aman, namun realitasnya kini zona tersebut telah berubah menjadi medan perang antara Israel dan Hizbullah.
Tiga prajurit Indonesia yang gugur dalam misi tersebut adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Berdasarkan data dari UNIFIL, ketiga prajurit tersebut tewas dalam insiden ledakan yang terjadi di lokasi yang berbeda di Lebanon pada akhir Maret lalu.
Praka Farizal dilaporkan gugur akibat ledakan proyektil di dekat pos Indonesia di desa Adchit Al Qusayr. Sementara itu, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan kehilangan nyawa akibat ledakan dari sumber yang hingga kini masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut.











