HARIANJABAR.ID – Pemerintah Kota Bandung mulai melakukan penjajakan dengan mengundang 85 lembaga konservasi berbadan hukum untuk mengelola Kebun Binatang Bandung secara lebih profesional. Langkah strategis ini diambil guna menghadirkan tata kelola kebun binatang yang bertaraf internasional melalui pengawasan ketat dari pemerintah pusat, provinsi, hingga tingkat kota.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan bahwa proses seleksi ini bertujuan untuk menyaring calon pengelola yang memiliki kompetensi tinggi. Saat ini, pemerintah telah mulai menerima respons dari berbagai lembaga yang telah dikirimi undangan resmi tersebut.
“Kebun binatang, hari ini kita mulai menerima tawaran atau kesediaan dari lembaga konservasi berbadan hukum yang sudah kita undang,” ujar Farhan, Senin (13/4/2026) yang juga menekankan bahwa kredibilitas calon mitra menjadi poin utama dalam proses penjajakan ini.
Pemkot Bandung telah menyiapkan serangkaian persyaratan yang mencakup kriteria umum dan khusus bagi para peserta seleksi. Farhan memprediksi tidak semua lembaga akan mampu memenuhi standar tinggi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Potensi Investasi
“Pasti ada yang tidak lolos, karena selain syarat umum, juga ada syarat khusus yang harus dipenuhi,” ungkap Farhan. Ia menegaskan bahwa aspek reputasi tidak dapat ditawar mengingat besarnya tanggung jawab dalam mengelola aset daerah dan konservasi satwa.
Besarnya potensi investasi di Kebun Binatang Bandung juga menjadi alasan utama mengapa proses pemilihan dilakukan secara selektif. Farhan memperkirakan nilai investasi pada tahap awal pengembangan dapat mencapai lebih dari Rp50 miliar dalam periode dua tahun pertama.
“Kita ingin pengelola yang benar-benar memiliki reputasi sangat baik, karena anggaran dan peluang investasinya cukup besar,” tutur Farhan. Pemkot Bandung mencari mitra yang tidak hanya memiliki modal finansial, tetapi juga rekam jejak manajerial yang kuat di bidang konservasi.
Selain fokus pada aspek profesionalisme, pemerintah juga membuka ruang bagi partisipasi dan masukan dari masyarakat luas. Perhatian yang besar dari publik hingga lembaga internasional dianggap sebagai dorongan positif untuk melakukan pembenahan fasilitas secara menyeluruh.
“Perhatian dari banyak pihak ini menjadi motivasi bagi kami untuk membentuk pengelolaan kebun binatang yang baik dan bertaraf internasional,” pungkas Farhan.












