Beranda / Bisnis / Percepatan Transisi Kendaraan Listrik Jadi Solusi Hadapi Lonjakan Harga Minyak Dunia

Percepatan Transisi Kendaraan Listrik Jadi Solusi Hadapi Lonjakan Harga Minyak Dunia

HARIANJABAR.ID –  Pengamat otomotif Martinus Pasaribu menilai percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak sekaligus menjaga stabilitas APBN. Upaya ini mendesak dilakukan guna mengantisipasi tekanan fiskal akibat fluktuasi harga minyak global yang sering kali dipicu oleh ketegangan geopolitik internasional.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak saat ini masih sangat tinggi, yakni mencapai 60 hingga 70 persen dari total kebutuhan nasional. Di sisi lain, angka produksi minyak domestik atau lifting terus mengalami penurunan hingga hanya menyentuh kisaran 600 ribu barel per hari, sehingga membuat anggaran negara sangat rentan terhadap gejolak pasar dunia.

Martinus menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dalam asumsi makro dapat memicu pembengkakan beban subsidi dan kompensasi energi hingga Rp8 triliun sampai Rp10 triliun. Jika harga minyak dunia menembus angka 90 hingga 100 dolar AS per barel, total belanja subsidi energi berpotensi melampaui angka Rp300 triliun per tahun.

Dari sisi efisiensi pengguna, kendaraan listrik diklaim jauh lebih hemat karena biaya energinya hanya berkisar Rp300 hingga Rp500 per kilometer. Angka ini terpaut jauh dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin yang membutuhkan biaya operasional antara Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilometer.

Potensi Penghematan Devisa dan Ketahanan Energi

Penggunaan kendaraan listrik dalam skala besar diprediksi mampu memberikan dampak signifikan terhadap penghematan konsumsi BBM nasional secara akumulatif. Martinus memaparkan bahwa integrasi antara mobil dan motor listrik dapat memangkas kuota impor minyak secara besar-besaran setiap tahunnya.

Menurut Martinus, penggunaan 1 juta mobil listrik dapat menghemat sekitar 1,25 juta kiloliter BBM per tahun, sementara 5 juta motor listrik berpotensi menghemat hingga 1,75 juta kiloliter. Secara total, konversi ini setara dengan pengurangan impor minyak yang dapat menyelamatkan devisa negara dalam jumlah yang sangat besar.

“Dengan asumsi harga minyak global berada di kisaran 90 – 100 dolar AS per barel dan kurs rupiah saat ini, pengurangan impor tersebut dapat menghemat devisa sekitar Rp30 – 40 triliun per tahun,” ujar Martinus dalam keterangannya di Jakarta.

Selain manfaat finansial, elektrifikasi transportasi juga diharapkan mampu menciptakan efek domino positif bagi penguatan industri manufaktur dalam negeri. Martinus menegaskan bahwa transisi ini bukan sekadar soal energi bersih, melainkan bagian dari kedaulatan energi nasional.

“Transisi ke kendaraan listrik bukan hanya langkah menuju energi bersih, tetapi juga strategi konkret untuk penghematan devisa, menjaga ketahanan fiskal, dan memperkuat kedaulatan energi nasional di tengah ketidakpastian global,” pungkasnya.

 

Tag: