BANDUNG – Banyak dari kita mungkin pernah mendengar istilah “people pleaser” atau sering menyebut diri sendiri sebagai seorang “people pleaser.” Artikel ini akan membahas enam masalah utama yang sering dihadapi oleh individu dengan kepribadian “people pleaser” dalam terapi, berdasarkan wawancara dengan beberapa terapis berpengalaman. Memahami masalah-masalah ini dapat membantu Anda atau orang yang Anda kenal untuk mengatasi perilaku ini dan meningkatkan kesejahteraan mental.
1. Kesulitan Menentukan Batasan (Boundaries)
Menurut Meghan Watson, pendiri dan direktur klinis Bloom Psychology & Wellness di Toronto, menetapkan batasan merupakan topik besar yang muncul dalam sesi terapi dengan “people pleaser.” Watson menjelaskan, “Jika mereka menyadari bahwa sering kali mereka lebih memperhatikan orang lain dengan mengorbankan diri sendiri, mereka mungkin merasa frustrasi dan mudah tersinggung karena tidak tahu bagaimana berhenti memperhatikan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan mereka sendiri. Dan biasanya itu mengarah pada percakapan tentang batasan yang tepat.”
2. Perasaan Bersalah (Guilt)
Natalie Moore, seorang terapis pernikahan dan keluarga berlisensi di California, menyatakan bahwa, “Alasan mengapa ‘people pleaser’ menghindari penetapan batasan adalah karena konsekuensi emosional dari menetapkan batasan tersebut, yang sering kali adalah perasaan bersalah. Bersalah adalah perekat yang menyatukan perilaku ‘people pleasing’.”
3. Berjuang dengan Konflik dan Ketidaknyamanan
Manahil Riaz, seorang psikoterapis di Houston, menjelaskan bahwa “people pleaser” “tidak mampu mentolerir kesusahan; mereka tidak mampu mentolerir konflik.” Meskipun masyarakat mendorong untuk menjaga perdamaian, Riaz menekankan bahwa “ketika kita menjaga kedamaian orang lain, kita kehilangan kedamaian pribadi kita.” Menyatakan perbedaan pendapat bisa sangat sulit bagi seorang “people pleaser.”
4. Mengalami Kesepian (Loneliness)
Riaz menjelaskan bahwa ketika bekerja mengatasi perilaku “people pleasing”, individu sering dihadapkan pada kesepian — “karena semua orang yang akan memanfaatkan saya tidak ada lagi di sini.” Ketika seseorang tidak lagi selalu mengatakan ya dan tersedia kapanpun, orang-orang di sekitarnya mungkin akan menjauh. “Sekarang saya memiliki lebih sedikit teman atau sekarang rekan kerja saya tidak lagi berbicara dengan saya dan mengabaikan saya… Bagaimana kita menghadapinya secara emosional?” tanya Riaz. Lebih dari itu, seringkali individu berduka atas hilangnya hubungan-hubungan yang pada dasarnya dangkal tersebut.
5. Mengatasi Perasaan Dendam (Resentment)
Bagi seseorang yang tidak pernah mengatakan tidak, wajar untuk merasa dendam ketika orang yang dicintai tidak membalas kebaikan. Moore memberikan contoh, jika Anda selalu berusaha keras merencanakan pesta ulang tahun teman Anda setiap tahun, tetapi teman Anda bahkan tidak datang ke pesta ulang tahun Anda, Anda mungkin akan merasa dendam.
6. Kesulitan Menentukan Kebutuhan Sendiri
Watson menjelaskan, “Seringkali, ‘people pleaser’ akan mengungkapkan bahwa mereka tidak memiliki alat penilaian yang baik untuk menentukan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Mereka begitu fokus pada orang lain sehingga bahkan ketika mereka ingin fokus pada diri sendiri, mereka tidak tahu bagaimana menilai kebutuhan mereka sendiri atau mengalami emosi mereka sendiri… untuk dapat menentukan apa yang mereka butuhkan.”
Meskipun beberapa aspek “people pleasing” seperti empati dan keinginan untuk membantu orang lain bisa menjadi sifat yang positif, menyeimbangkan kepedulian terhadap orang lain dengan kebutuhan diri sendiri sangat penting untuk kesehatan mental dan kesejahteraan.










